default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Anak di Kelas Takhosus Tahfidz Quran, Ortu Ikut Menghafal Quran

Anak di Kelas Takhosus Tahfidz Quran, Ortu Ikut Menghafal Quran
Edukasi
Kegiatan siswa menghafal Al-Qur'an SDIT Harapan Umat Jember
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JEMBER, (suaraindonesia.co.id) - Siti Henik Aissiyah belum melepas mukenanya. Salat Maghrib baru saja tertunaikan. Anak laki-lakinya yang ketiga, Muhammad Azzam Firdaus, menghampiri sambil duduk dan membawa Alquran.

Kitab suci itu tidak dibuka. Sejurus kemudian, Azzam mulai membaca ta’awudz. Selanjutnya, mengalirlah bacaan beberapa surat Alquran di juz 30. Itulah aktivitas muroja’ah (mengulang hafalan Alquran, Red) Azzam menjelang malam di rumahnya.

Hal yang sama diulang lagi pagi hari usai salat Subuh. “Kunci menghafal sebenarnya banyak mengulang apa yang sudah dihafal,” ujar Henik.

Azzam duduk di kelas 3 SD Islam Terpadu (SDIT) Harapan Umat Jember. Tahun ajaran baru lalu dia masuk kelas takhosus tahfidz (kelas khusus menghafal Alquran, Red). Kelas takhosus tahfidz dimulai saat anak naik ke kelas 3.

Meski porsi menghafal Alquran lebih banyak dari kelas yang lain, bukan berarti anak-anak di kelas takhosus tahfidz tidak belajar pelajaran umum. “Kurikulum umum tetap berjalan seperti biasa,” kata Elly Nuzulianti, kepala SDIT Harapan Umat Jember.

Kelas takhosus tahfidz baru dimulai SDIT Harapan Umat setahun lalu. Ini adalah ijtihad pengelola sekolah untuk mengombinasikan kurikulum nasional dengan hafalan Alquran.

Karena kelas khusus, penanganan anak didik di kelas takhosus tahfidz pun lebih khusus. Misalnya, satu kelas memilik satu pengampu tahfidz. “Alhamdulillah, kami bekerja sama dengan pesantren tahfidz Quran Ibnu Katsir Jember. Beberapa santri pengabdian di sini. Tetapi, alumni Ibnu Katsir juga ada yang mengajar di sini,” sambung Elly.

Sebagai kelas yang baru, kelas takhosus tahfidz masih mencari bentuk. Tetapi, Elly menegaskan, peranan keluarga dalam mengawal pendidikan dan hafalan Quran anak menjadi kunci utama. “Karena itu, orang tua harus memberi persetujuan lebih dulu saat anaknya dinominasikan masuk takhosus tahfidz,” katanya.

Menjelang kenaikan kelas, pengelola sekolah akan melakukan asesmen kepada anak-anak yang memiliki potensi hafalan Quran. Selain menganalisis potensi hafalan, sekolah juga menganalisis nilai akademik. “Yang pasti, anak yang dinominasikan ke kelas takhosus tahfidz adalah anak-anak yang nilai akademiknya relatif bagus,” terangnya.

Setelah menemukan anak-anak yang dinominasikan ke kelas takhosus tahfidz, saat penerimaan rapor kenaikan kelas, orang tua akan diajak bicara. Sekolah akan mempresentasikan hasil analisisnya dan orang tua dimintakan persetujuan anaknya masuk takhosus tahfidz. “Kalau orang setuju oke, masuk. Kalau tidak setuju karena memiliki pertimbangan tersendiri, kami tidak memaksa,” ujar Elly.

Saat kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, waktu untuk menghafal Alquran anak-anak di kelas takhosus tahfidz lebih banyak dari kelas yang lain. Sebab, di SDIT Harapan Umat, sejatinya semua anak didik juga menghafal Alquran.

Mengenai evaluasi setahun perjalanan takhosus tahfidz, Elly mengakui memang masih harus dilakukan perbaikan. Terutama, dukungan keluarga. “Tingkat atensi masing-masing keluarga kan tidak sama. Ini tantangan, bukan halangan. Seiring perjalanan waktu, kami yakin akan terus lebih baik,” tandasnya.

Di sisi lain, dia menilai, anak-anak di kelas takhosus tahfidz tergolong lebih rajin dalam menjalani proses belajar. “Yang penting nilai akademiknya masih bisa diatas standar. Tetapi, anak-anak di takhosus tahfidz memang lebih rajin dan ulet. Mungkin terbawa karena menghafal Quran kan butuh tekun dan sabar,” akunya.

Keluarga Memberi Contoh

Bentuk dukungan keluarga anak-anak di kelas takhosus tahfidz dalam mendukung program unggulan SDIT Harapan Umat ini cukup beragam. Seperti Topo Harmoko, salah seorang wali murid, misalnya.

Dia menjadi lebih rajin untuk mengingatkan anaknya untuk menghafal Alquran. “Di keluarga kami cukup mengingatkan anak agar mengulang hafalannya. Kami tidak ingin memaksakan ke anak,” katanya.

Topo mengaku tidak ingin memberi beban berlebih kepada anaknya. “Yang penting kami mengingatkan. Kalau anaknya mau muroja’ah, kami akan layani,” terangnya.

Di rumahnya tidak ada waktu yang dikhususnya untuk mengawal hafalan sang anak. Tetapi, kebanyaknya kegiatan muroja’ah itu dilakukan usai salat Maghrib.

Sedikit berbeda dengan yang diterapkan Henik. Ibu empat anak ini berupaya memberikan contoh kepada Azzam, anaknya. “Di rumah, kami berusaha juga menghafal Alquran, walau tidak banyak. Yang penting, kami berusaha memberi contoh kepada anak bahwa orang tuanya ikut menghafal,” katanya.

Dia bersama suami tidak menekankan banyaknya hafalan. Sebab, yang terpenting dalam proses menghafal Quran bukan pada cepat atau lambatnya hafalan, tetapi kebersamaan dengan Alquran. “Jadi kadang dia (Azzam, Red) juga lihat kami menghafal, meski buat kami susah payah juga (menghafal, Red),” ujarnya.

Henik meyakini, pendidikan dalam keluarga yang paling efektif adalah dengan memberi contoh langsung. Jika melihat keberhasilan syiar Islam oleh Nabi Muhammad SAW, metode keteladanan menjadi kunci. “Kalau nyuruh anak salat, ya kita harus salat dan anak lihat kita salat. Saya pikir sama dengan menghafal Alquran,” cetusnya.

Selain memberi teladan secara langsung, Henik menyiapkan waktu khusus untuk muroja’ah. Yang pasti setelah salat Maghrib dan Subuh. “Mengenai berapa banyak hafalan yang diulang tidak ada patokannya,” ungkapnya.

Dia sadar, satuan pendidikan harus mendapat dukungan keluarga. Sebagai wujud dukungan terhadap sekolah, dia juga ikut memanatu perkembangan anak di sekolah. Caranya adalah dengan membangun komunikasi dua arah yang baik dengan pihak sekolah, khususnya wali kelas. Setiap perkembangan anak di sekolah bisa dia ketahui. Demikian pula pihak sekolah bisa update dengan apa yang dilakukan anak di rumah.

Tidak lupa, perempuan asal Trenggalek ini menegaskan, dukungan yang tidak kalah penting dari keluarga adalah doa. Di

Siti Henik Aissiyah belum melepas mukenanya. Salat Maghrib baru saja tertunaikan. Anak laki-lakinya yang ketiga, Muhammad Azzam Firdaus, menghampiri sambil duduk dan membawa Alquran.

Kitab suci itu tidak dibuka. Sejurus kemudian, Azzam mulai membaca ta’awudz. Selanjutnya, mengalirlah bacaan beberapa surat Alquran di juz 30. Itulah aktivitas muroja’ah (mengulang hafalan Alquran, Red) Azzam menjelang malam di rumahnya.

Hal yang sama diulang lagi pagi hari usai salat Subuh. “Kunci menghafal sebenarnya banyak mengulang apa yang sudah dihafal,” ujar Henik.

Azzam duduk di kelas 3 SD Islam Terpadu (SDIT) Harapan Umat Jember. Tahun ajaran baru lalu dia masuk kelas takhosus tahfidz (kelas khusus menghafal Alquran, Red). Kelas takhosus tahfidz dimulai saat anak naik ke kelas 3.

Meski porsi menghafal Alquran lebih banyak dari kelas yang lain, bukan berarti anak-anak di kelas takhosus tahfidz tidak belajar pelajaran umum. “Kurikulum umum tetap berjalan seperti biasa,” kata Elly Nuzulianti, kepala SDIT Harapan Umat Jember.

Kelas takhosus tahfidz baru dimulai SDIT Harapan Umat setahun lalu. Ini adalah ijtihad pengelola sekolah untuk mengombinasikan kurikulum nasional dengan hafalan Alquran.

Karena kelas khusus, penanganan anak didik di kelas takhosus tahfidz pun lebih khusus. Misalnya, satu kelas memilik satu pengampu tahfidz. “Alhamdulillah, kami bekerja sama dengan pesantren tahfidz Quran Ibnu Katsir Jember. Beberapa santri pengabdian di sini. Tetapi, alumni Ibnu Katsir juga ada yang mengajar di sini,” sambung Elly.

Sebagai kelas yang baru, kelas takhosus tahfidz masih mencari bentuk. Tetapi, Elly menegaskan, peranan keluarga dalam mengawal pendidikan dan hafalan Quran anak menjadi kunci utama. “Karena itu, orang tua harus memberi persetujuan lebih dulu saat anaknya dinominasikan masuk takhosus tahfidz,” katanya.

Menjelang kenaikan kelas, pengelola sekolah akan melakukan asesmen kepada anak-anak yang memiliki potensi hafalan Quran. Selain menganalisis potensi hafalan, sekolah juga menganalisis nilai akademik. “Yang pasti, anak yang dinominasikan ke kelas takhosus tahfidz adalah anak-anak yang nilai akademiknya relatif bagus,” terangnya.

Setelah menemukan anak-anak yang dinominasikan ke kelas takhosus tahfidz, saat penerimaan rapor kenaikan kelas, orang tua akan diajak bicara. Sekolah akan mempresentasikan hasil analisisnya dan orang tua dimintakan persetujuan anaknya masuk takhosus tahfidz. “Kalau orang setuju oke, masuk. Kalau tidak setuju karena memiliki pertimbangan tersendiri, kami tidak memaksa,” ujar Elly.

Saat kegiatan belajar mengajar (KBM) dimulai, waktu untuk menghafal Alquran anak-anak di kelas takhosus tahfidz lebih banyak dari kelas yang lain. Sebab, di SDIT Harapan Umat, sejatinya semua anak didik juga menghafal Alquran.

Mengenai evaluasi setahun perjalanan takhosus tahfidz, Elly mengakui memang masih harus dilakukan perbaikan. Terutama, dukungan keluarga. “Tingkat atensi masing-masing keluarga kan tidak sama. Ini tantangan, bukan halangan. Seiring perjalanan waktu, kami yakin akan terus lebih baik,” tandasnya.

Di sisi lain, dia menilai, anak-anak di kelas takhosus tahfidz tergolong lebih rajin dalam menjalani proses belajar. “Yang penting nilai akademiknya masih bisa diatas standar. Tetapi, anak-anak di takhosus tahfidz memang lebih rajin dan ulet. Mungkin terbawa karena menghafal Quran kan butuh tekun dan sabar,” akunya.

Keluarga Memberi Contoh

Bentuk dukungan keluarga anak-anak di kelas takhosus tahfidz dalam mendukung program unggulan SDIT Harapan Umat ini cukup beragam. Seperti Topo Harmoko, salah seorang wali murid, misalnya.

Dia menjadi lebih rajin untuk mengingatkan anaknya untuk menghafal Alquran. “Di keluarga kami cukup mengingatkan anak agar mengulang hafalannya. Kami tidak ingin memaksakan ke anak,” katanya.

Topo mengaku tidak ingin memberi beban berlebih kepada anaknya. “Yang penting kami mengingatkan. Kalau anaknya mau muroja’ah, kami akan layani,” terangnya.

Di rumahnya tidak ada waktu yang dikhususnya untuk mengawal hafalan sang anak. Tetapi, kebanyaknya kegiatan muroja’ah itu dilakukan usai salat Maghrib.

Sedikit berbeda dengan yang diterapkan Henik. Ibu empat anak ini berupaya memberikan contoh kepada Azzam, anaknya. “Di rumah, kami berusaha juga menghafal Alquran, walau tidak banyak. Yang penting, kami berusaha memberi contoh kepada anak bahwa orang tuanya ikut menghafal,” katanya.

Dia bersama suami tidak menekankan banyaknya hafalan. Sebab, yang terpenting dalam proses menghafal Quran bukan pada cepat atau lambatnya hafalan, tetapi kebersamaan dengan Alquran. “Jadi kadang dia (Azzam, Red) juga lihat kami menghafal, meski buat kami susah payah juga (menghafal, Red),” ujarnya.

Henik meyakini, pendidikan dalam keluarga yang paling efektif adalah dengan memberi contoh langsung. Jika melihat keberhasilan syiar Islam oleh Nabi Muhammad SAW, metode keteladanan menjadi kunci. “Kalau nyuruh anak salat, ya kita harus salat dan anak lihat kita salat. Saya pikir sama dengan menghafal Alquran,” cetusnya.

Selain memberi teladan secara langsung, Henik menyiapkan waktu khusus untuk muroja’ah. Yang pasti setelah salat Maghrib dan Subuh. “Mengenai berapa banyak hafalan yang diulang tidak ada patokannya,” ungkapnya.

Dia sadar, satuan pendidikan harus mendapat dukungan keluarga. Sebagai wujud dukungan terhadap sekolah, dia juga ikut memanatu perkembangan anak di sekolah. Caranya adalah dengan membangun komunikasi dua arah yang baik dengan pihak sekolah, khususnya wali kelas. Setiap perkembangan anak di sekolah bisa dia ketahui. Demikian pula pihak sekolah bisa update dengan apa yang dilakukan anak di rumah.

Tidak lupa, perempuan asal Trenggalek ini menegaskan, dukungan yang tidak kalah penting dari keluarga adalah doa. Dia dan suaminya selalu mendoakan semua anaknya, termasuk Azzam, agar bisa menjadi penghafal Alquran.

Lantunan ayat-ayat Alquran masih terdengar di musala keluarga di rumah Henik, sebakda Subuh itu. “Kami memang bercita-cita ada setidaknya seorang anak kami, syukur bisa semuanya, kelak menjadi penghafal Alquran. Itu doa saya dan suami,” tutupnya. (hari setiawan)

Dia dan suaminya selalu mendoakan semua anaknya, termasuk Azzam, agar bisa menjadi penghafal Alquran.

Lantunan ayat-ayat Alquran masih terdengar di musala keluarga di rumah Henik, sebakda Subuh itu. “Kami memang bercita-cita ada setidaknya seorang anak kami, syukur bisa semuanya, kelak menjadi penghafal Alquran. Itu doa saya dan suami,” tutupnya. (Jemberpost/Hari Setiawan)

 


Reporter : Muhammad
Editor : Rozi
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar