default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Anggaran Penanganan HIV/AIDS Bondowoso Minim, Ini Solusinya

Anggaran Penanganan HIV/AIDS Bondowoso Minim, Ini Solusinya
Suara Pembaca
Karikatur (Dodi Budiana/SUARA INDONESIA)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh: Kurnia Yulie Wardani, S.Pd

Staf Pengajar SMPN I Taman Krocok Bondowoso

Bondowoso merupakan salah satu daerah dengan status zona merah untuk penyebaran virus HIV/AIDS. Zona yang menandakan bahwa penyebaran virus ini merata di setiap kecamatan. Sekadar diketahui, saat ini ada 398 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) di Bondowoso hingga September 2019 (BharataPost, edisi 413, 24/11/2019). Angka-angka ini bisa terus bertambah dengan cepat jika tidak diiringi perencanaan penanganan secara tepat. Pola penanganan tepat ini tentu membutuhkan sokongan dana dari pemerintah.

Akan tetapi, anggaran penanganan dan pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Bondowoso mengalami penurunan. Diketahui dari anggaran awal sebesar 100 juta rupiah, saat ini turun hingga 50 persen. Penurunan anggaran ini menuai keprihatinan dari Ketua Komisi IV DPRD Bondowoso, Ady Kriesna, “Kami prihatin atas menurunnya anggaran untuk penanganan HIV/AIDS, baik dari sisi pencegahan maupun penanganannya. Seharusnya, pemerintah sudah memotret jika persoalan ini menjadi kebutuhan mendasar sehingga ada komitmen penanganan bersama.” (BharataPost, edisi 413).

 Tidak bisa dipungkiri jika penanganan penyintas HIV/ADIS membutuhkan biaya besar karena obat-obatan retroviral selama ini masih disubsidi oleh pemerintah. Penyintas HIV/AIDS bisa memeroleh obat ARV ini secara gratis hingga di tingkat kecamatan. Namun, untuk layanan pemeriksaan HIV lini 1 (pemeriksaan awal), hanya ada 6 Puskesmas yang dapat melayani. Sejumlah Puskesmas itu adalah Maesan, Tamanan, Sumber Wringin, Prajekan, Wringin, dan Cerme. Jadi, lebih banyak Puskesmas yang belum memiliki fasilitas dibandingkan yang sudah terpenuhi. Pengadaan alat-alat ini di sejumlah Puskesmas yang belum dapat melayani tentu membutuhkan biaya.

Pengurangan anggaran di tengah ancaman makin meluasnya penyebaran virus HIV/AIDS tentu menimbulkan masalah tersendiri.

Alternatif  Solusi

Setiap permasalahan yang muncul pasti ada jalan keluarnya. Demikian pula dengan kasus massifnya penyebaran virus HIV/AIDS, sedangkan anggaran penanganannya memprihatinkan. Maka mengoptimalkan dana minim agar tepat sasaran itulah yang harus dilakukan.

Jika selama ini penambahan jumlah penderita terbanyak diakibatkan oleh perilaku seks menyimpang, tidak aman, dan berganti-ganti pasangan, dan penggunaan jarum suntik secara bergantian pada para pecandu narkoba, maka perilaku inilah yang harus dihentikan. Nafsu untuk melakukan hubungan seksual di luar pernikahan wajib direm. Demikian pula dengan pemberantasan narkoba harus digencarkan.

Perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba jarum suntik ini dapat berhenti jika pelakunya diedukasi dan diingatkan lagi bahwa mereka sebenarnya mahluk yang harus tunduk pada aturan Dzat Penciptanya, yaitu Allah. Kesadaran ini akan mengantarkan mereka menjadi insan yang bertakwa. Dia akan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskannya ke neraka. Upaya penyadaran ini akan menjadi imunitas bagi mereka di tengah serangan gaya hidup permissif dan hedonis. Pembinaan agama sangat perlu dilakukan secara rutin. Pembinaan agama tidak cukup hanya dengan khutbah Jumat saja.

Selain itu dibutuhkan juga adanya kepedulian dari masyarakat terhadap perilaku-perilaku menyimpang di lingkungan sekitarnya. Kontrol dari masyarakat ini bisa efektif jika mereka memiliki kesamaan pemikiran dan perasaan dalam menilai sesuatu itu benar dan salah. Standar benar dan salah ini harus pula dikembalikan pada standar dari Sang Pencipta.

Terakhir perlu adanya upaya sistemik dari pemerintah untuk bersungguh-sungguh meregulasi makin meluasnya penyebaran HIV/AIDS ini mulai dari sosialisasi penularan, pencegahan, perawatan, dan pengobatannya di berbagai level masyarakat. Pemerintah juga perlu melarang penjualan kondom secara bebas di minimarket-minimarket, memberantas peredaran narkoba, menutup seluruh website berbau pornografi dan pornoaksi, menutup seluruh lokalisasi dan tempat-tempat yang ditengarai sebagai tempat transaksi seksual, mempidanakan pelaku LGBT, dan perzinahan. Interkoneksi antar lembaga dan seluruh unsur masyarakat meniscayakan adanya penurunan angka penyintas HIV/AIDS.

 

Artikel dan opini yang dimuat di website suaraindonesia.co.id bukan menjadi tanggungjawab redaksi


Kontributor :
Editor : Alfian Nur
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar