Meramal Masa Depan, Boleh Atau Tidak?

Meramal Masa Depan, Boleh Atau Tidak?
Suara Pembaca
Ilustrasi

Oleh : Endah Fitriah S.Pd
 
Ramalan bukanlah suatu hal yang baru. Karena sejak jaman dahulu telah ada yang namanya ramalan. Hal ini bisa kita ketahui dari sejarah raja Firaun yang membunuh banyak bayi laki-laki yang baru lahir karena adanya ramalan akan mimpinya,  bahwa akan ada seorang bayi laki-laki yang akan menggantikan kedudukannya.
 
Tak dapat dipungkiri, setiap menjelang pergantian tahun yang mengalami peningkatan jumlah pengunjung tak hanya terjadi pada tempat wisata dan penginapan, tapi juga paranormal. Karena sebelum pergantian tahun banyak yang ingin tahu nasibnya di tahun depan. Umumnya ingin mengetahui kehidupan percintaannya, bisnis, kesehatan dan lainnya. 
 
Rasa ingin tahu tentang misteri masa depan ini tak hanya melanda usia remaja bahkan orang dewasa dari kalangan pengusaha, artist, cendekiawan pun tak mau kalah untuk ambil bagian didalamnya. Rasa penasaran akan sebuah misteri masa depan sejak jaman jahiliyah hingga era digital ramalan nasib selalu mampu menyita perhatian masyarakat dunia.
 
Dari belahan bumi Eropa, Amerika, hingga Asia, ramalan tidak pernah ada matinya. Walaupun banyak yang mengatakan hanya untuk hiburan semata tapi ketika hasil ramalannya baik akan di simpan baik-baik dalam hati dan ketika hasilnya buruk akan sedih dan cemberut.
 
Irrasional Tapi Fenomenal

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ramalan nasib merupakan sesuatu yang irasional / tidak masuk akal. Penuh dengan dugaan dan kemungkinan. Namun faktanya masih banyak orang yang mau dan ingin diramal. Hal ini tampak dari ada begitu banyak metode ramalan yang dilakukan dan menjadi trend. Ada Astrologi (ilmu perbintangan), Palmistry (membaca garis tangan), dan kartu tarot. Tak cukup dengan semua itu, dunia ramal meramal merambah dunia maya, bahkan ada juga yang memanfaatkan kecanggihan teknologi ponsel baik via SMS bahkan dalam bentuk aplikasi.
 
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dunia ramal meramal tak pernah ada matinya?. Jika diperhatikan lebih seksama maka akan ditemukan beberapa faktor. 
Pertama, rasa penasaran tentang masa depan. Karena manusia adalah makhluk yang lemah dan terbatas maka selalu muncul rasa ingin tahu apa yang akan terjadi pada dirinya dikemudian hari.

Kedua, second opinion. Berada dalam sebuah masalah membuat kita sering mencari jalan keluar dengan mendengarkan pendapat teman, keluarga atau orang terdekat. Akan tetapi terkadang, second opinion yang diambil adalah dengan mendatangi peramal.

Ketiga, sebagai komoditi bisnis. Dunia ramalan memang takkan pernah sepi dari order. Sehingga tidak heran jika media massa menayangkan dunia ramal dan supranatural. Maka wajar saja jika masyarakat mengenal Mama Lauren, Ki Joko Bodo, atau Roy Kiyoshi.
 
Islam Tak Kenal Ramalan

Ramalan pada dasarnya bukan berasal dari Islam tapi dari masa kejahiliyaan. Sebab, yang tahu perkara ghaib hanya Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman : “Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”. (QS. An Naml: 65).
 
Dan Allah tak pernah memperlihatkan hal ghaib kecuali pada Rasul yang di ridhoi-Nya. Seperti yang termaktub dalam firman Allah : "(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali pada Rasul yang di ridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya."  (QS. Al-Jin : 26-27).
 
Lalu bagaimana jika ada hasil ramalan yang kebenarannya terjadi ? Tentu hal demikian bukan berarti peramal tahu tentang perkara yang ghaib. Allah SWT telah berfirman dalam QS Al-Jin : 8-10, “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui rahasia langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan lontaran api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan berita-beritanya. Tetapi sekarang barangsiapa yang mencoba mendengar-dengarkan seperti itu tentu akan menjumpai lontaran api yang mengintai untuk membakarnya. Dan sungguh dengan adanya penjagaan tersebut kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Rabb mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.”
 
Bahkan Aisyah r.a berkata, beberapa orang bertanya kepada Nabi saw. tentang dukun. Jawab Nabi: " mereka bukan apa-apa". Berkata mereka : "adakalanya mereka itu menceritakan dan terjadi benar". Nabi bersabda: "itu kalimat yang hak di curi oleh Jin, maka disampaikan kepada dukun dan ditambah dengan seratus kalimat dusta." (HR. Bukhari-Muslim)
 
Dengan demikian, ramalan bukanlah suatu hal yang bermanfaat. Selain itu ramalan juga menghanguskan nilai ibadah dan merusak Aqidah. Mengapa demikian ? Karena di dalam ajaran tersebut mendatangkan ketergantungan pada selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib. Dan hal inilah yang disebut dengan kesyirikan.
 
Jika hanya sekedar mendatangi atau membaca ramalan, Nabi Saw bersabda: "siapa yang datang kepada tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima." (HR. Muslim no. 2230).
 
Dan apabila sampai mempercayainya atau meyakininya akan di anggap telah mengkufuri Al- Qur'an yang menyatakan bahwa hanya Allah pengetahuan tentang ilmu ghaib. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan , maka ia berarti telah kufur pada Al Qur'an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532)
 
Nah, jika membaca ramalan nilai ibadah menjadi hangus apalagi hingga meyakininya di anggap telah kufur, masihkah akan mendatangi peramal, membaca zodiak dan bahkan meyakininya ?
 


Kontributor :
Editor : Alfian Nur
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar