default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Liberalisme Mengoyak Tatanan Keluarga

Liberalisme Mengoyak Tatanan Keluarga
Suara Pembaca
Karikatur (Dodi Budiana/SUARA INDONESIA)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

 

Oleh : Bunda Atiqoh

Berawal bincang santai dengan warga, perihal perilaku sekelompok masyarakat atau bisa dikatakan segelintir orang yang terpantau. Masalah rumah tangga yang melibatkan orang ketiga. Sudah amat biasa. Namun kali ini benar-benar membuat terperangah. Seakan tak percaya, bahwa yang melakoninya adalah orang yang mengaku dirinya Islam.

Sepasang suami istri bekerja di suatu daerah. Si istri selingkuh dengan penduduk setempat. Dikontrakkan rumah, tinggal berdua tanpa nikah. Hengkang lah suaminya. Rupanya  si PIL ( Pria Idaman Lain) ini tajir, hingga dia berani tinggalkan si suami. Namun sebelumnya, ternyata si istri ini adalah wanita sewaan orang-orang bule, dengan masa kontrak yang berbeda-beda bisa hitungan bulan hingga tahun. Jika pelayanan memuaskan kontrak bisa diperpanjang. Selama " si pengontrak" tidak ditempat, disewalah satpam untuk menjaga wanita ini. Namun apa boleh dikata, uang lebih menggiurkan daripada hanya sekedar "kesetiaan" . Kongkalikong dengan satpam untuk mencari mangsa adalah solusi memenuhi nafsu duniawinya. Si satpam pun dengan sigap menawarkan juragannya kepada lelaki hidung belang. Sebagai imbalan si satpam menerima bagi hasil sebagai kompensasi untuk bungkam kepada siapapun terlebih pada pasangan kontraknya. Naudzubillahimindzalik....

Cerita  lain tak kalah mirisnya, suami bekerja pada malam hari hingga subuh. Pulang ke rumah sudah lelah, tertidur hingga matahari naik sepenggalan. Kala suami tidur dimanfaatkan oleh si istri untuk berbagi kemesraan dengan laki-laki lain. Tidak hanya seorang, tapi beberapa orang dengan imbalan rupiah. Tetangga yang mengetahui kelakuan si istri enggan menegur karena suaminya terlalu sayang sama si istri. Takut rumah tangganya retak. Tapi Allah membuka kedok si istri, hingga suaminya benar-benar tahu kelakuan istrinya.

Dua kasus di atas hanya contoh kecil fakta yang terjadi di masyarakat. Siapakah yang salah dalam hal ini? Seperti benang kusut yang sulit diurai. Tak diketahui ujung pangkalnya. Faktor utama, mungkin masalah ekonomi. Budget pas-pasan jiwa sosialita alias BPJS. Muncul gaya hidup hedonis ditengah himpitan keuangan yang minimalis. Tak bisa mengendalikan nafsu akhirnya apapun dilakukan demi receh yang didamba. Tak peduli halal haram. Tak malu bermaksiat ditengah masyarakat yang "agak" agamis. Tak hiraukan kasak kusuk tetangga yang mencerca perbuatannya. Yang penting, harta dalam genggaman dan mampu membeli apa saja. Tujuan hidupnya hanya sekedar materi yang tak dibawa mati.

Faktor yang lain, ketakwaan individu diambang batas kritis. Liberalisme telah menggerus keimanannya. Tak lagi risau tatkala melanggar syara' . Seakan tak ada pertanggungjawaban kelak atas semua perilakunya. Ibadah pun demikian, jangankan yang sunnah,  yang wajib pun lewat. Hidup tanpa tujuan yang pasti. Lepas semua keterikatannya dengan hukum syara' yang penting bagaimana memperoleh uang sebanyak-banyaknya. Kesuksesan diukur dari banyaknya materi yang diperoleh. Bagaimana cara memperolehnya tak jadi soal. Kapitalisme liberal telah berhasil mengikis keimanannya hingga menjadikan materi adalah segalanya.

Tidak adanya kontrol masyarakat yang ketat terhadap pelaku maksiat, menyebabkan perilaku ini menjamur. Masyarakat enggan menegur karena takut dianggap ikut campur tangan masalah pribadi. Padahal perilaku ini akan menjadi virus masyarakat. Jika kemaksiatan sudah merajalela maka Allah akan menimpakan azab yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang yang bermaksiat. Sebagaimana dalam firman-Nya :

"Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya."

(QS. Al-Anfal 8: Ayat 25).

Islam solusi tuntas semua permasalahan.

Aqidah Islam adalah pondasi keimanan seseorang. Kuat tidaknya keimanan tergantung dari seberapa kuat aqidah sebagai pondasi. Ibarat sebuah bangunan, jika pondasinya menghujam kuat ke tanah maka bangunan ini akan kokoh walau diterjang badai. Demikian pula keimanan, jika aqidah yang melandasinya kuat maka bujuk rayu setan akan lewat. Tak tergoda nafsu dunia karena sadar tugasnya di dunia hanyalah untuk beribadah. Ketaatan pada suami pun dijamin seratus persen. Apalagi ketaatan kepada sang pemilik kehidupan, takkan mau ditukar dengan rupiah.

Seseorang yang aqidahnya kuat akan selalu menghubungkan apapun aktifitas nya dengan Allah, idrok silah billah. Maka mustahil jika ada keimanan di hati akan bermaksiat kepada Allah.  Imannya menjadi pengendali perbuatannya. Maka sudah saatnya ummat kembali pada aturan ilahi. Aturan yang syamil dan kamil dari sang pencipta kehidupan. Patuh dan taat pada semua  aturan Allah, adalah solusi tepat mengatasi semua permasalahan. Mengambil semua hukum-hukumNya adalah jalan keluar dari berbagai masalah. Namun kondisi ummat saat ini  sangat jauh dari syariatNya. Sedikit demi sedikit ummat meninggalkan ajarannya. Apa yang disampaikan Rosul sudah terbukti.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ

“Ikatan Islam akan lepas seutas demi seutas. Dan apabila satu simpul telah terlepas niscaya manusia akan berpegang pada simpul yang lain. Ketahuilah bahwa simpul pertama yang akan terputus adalah simpul hukum pemerintahan dan simpul terakhir adalah shalat”. (HR. Ahmad)

Wallahu a’lam bisshawab

Bondowoso, 30 Desember 2019


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Robianto
Publisher : Arifin
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar