Prevalensi Stunting di NTT Tahun 2019 Alami Penurunan 4,6 Persen

Prevalensi Stunting di NTT Tahun 2019 Alami Penurunan 4,6 Persen
Kesehatan
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi NTT, Iien Adriany

KUPANG - Jumlah anak balita yang terkena stunting di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 4,6 persen.

Data sementara Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTT menunjukan, kasus stunting di NTT tahun 2019 berada diangka 30,9 persen. Untuk tahun 2018 sendiri, angka stunting di NTT sebesar 35,5 persen.

Data tersebut merupakan hasil penimbangan dan pemeriksaan bayi di seluruh wilayah NTT pada bulan Februari dan Agustus tahun 2019.

"Data yang masuk sekitar 80 persen, ini data sementara tapi saya rasa kalau sudah 80 persen, prediksinya akan seperti itu, bisa bergeser tetapi kecil kemungkinan. Mungkin Februari baru kita dapat data pastinya, kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi NTT, Iien Adriany saat ditemui di ruangannya, Selasa (14/01/2020).

Perlu diketahui penggunaan e-PPGBM sendiri bertujuan agar tenaga pelaksana gizi dan pemangku kebijakan di daerah lebih mudah dalam mengamati permasalahan gizi di wilayahnya untuk selanjutnya mengambil keputusan serta tindakan apa yang akan dilakukan, baik secara komunitas maupun individu.

Data sementara dari e-PPGBM dinkes provinsi NTT, setidaknya ada lima wilayah yang memiliki angka stunting yang cukup tinggi.

Kelima wilayah tersebut secara berturut-turut adalah kabupaten TTS, TTU, Sabu Raijua, Sumba Barat Daya dan Rote Ndao.

"Rote Ndao ada sedikit kenaikan sehingga rangkingnya naik," ucapnya

Musabab tingginya stunting di lima wilayah tersebut adalah tidak terpenuhinya 25 indikator yang telah ditetapkan pemerintah. Beberapa diantaranya adalah kemiskinan dan sanitasi atau ketersediaan air bersih.

"Untuk indikator kesehatan ada 14, sisanya indikator dari bidang lain," terangnya.

Turunnya angka stunting di NTT sendiri lanjutnya, disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu diantaranya adalah penerapan program pendampingan bagi ibu dan anak, serta pembagian tablet penambah darah (FE) bagi remaja atau calon ibu.

Hingga saat ini telah ada kurang lebih 800 hingga 900 sekolah yang telah dibagikan tablet FE secara gratis oleh Dinkes Provinsi NTT.

"Ibu hamil harus kita rawat bahkan dari remaja kita sudah kawal. Calon ibu harus dipersiapkan untuk jadi ibu yang baik," pungkasnya


Kontributor : Sammy Mantolas
Editor : Imam Hairon
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar