default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Petani Cabai Tetap Diuntungkan, Meski Alami Kemerosotan

Petani Cabai Tetap Diuntungkan, Meski Alami Kemerosotan
Ekonomi
Petani cabe saat memanen buah cabe di sawahnya. (FOTO: Istimewa)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

BONDOWOSO - Meski panen cabai di Kabupaten Bondowoso mengalami kemerosotan akibat cuaca ekstrem, namun petani merasa diuntungkan.

Keuntungan itu dikarenakan harga cabai di pasaran mengalami kenaikan yang sangat drastis. Seperti yang dialami petani di Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok, Bondowoso. Mengaku, jumlah panen cabai saat ini mengalami pengurangan ketimbang musim panen sebelumnya.

"Dari lahan seluas 1,7 hektare yang ditanami cabai, sekali panen hanya mentok di 200 kilogram saja. Beda sama panenan yang sebelumnya sekali panen bisa sampai 400 hingga 500 kilogram," tukas salah satu petani setempat, Fauzi (52), Rabu (22/1/2020).

Fauzi mengatakan, menurutnya panen cabai saat ini di picu oleh cuaca yang tidak stabil.

"Ya, karena cuaca yang tidak menentu kadang hujan, kadang juga panas seharian. Sehingga tanaman cabai banyak yang layu dan lambat laun mengering dan banyak yang mati," jelasnya.

Meski jumlah panennya menurun, mereka tetap merasa diuntungkan karena kenaikan harga cabai yang terjadi sejak dua pekan yang lalu.

"Alhamdulilah meski alami kemerosotan akibat cuaca, petani disini masih tertolong dengan mahalnya harga cabai sekarang. Sehingga seimbang antara pengeluaran dan pendapatan, bahkan masih ada lebihnya," paparnya.

Ia menyebutkan, harga cabai rawit merah yang di patok untuk para tengkulak Rp 60 ribu per kilogramnya. "Untuk dipasaran saat ini, harga eceran sudah samapai Rp 70 ribu per kilogramnya," imbuhnya.

Selain memberikan kegembiraan untuk para petani, para buruh tani yang bekerja sebagai pemetik cabai juga diuntungkan. Sebab, ada penambahan harga dari orang yang mempekerjanya.

"Untuk harga cabai sebelum mahal biasanya kami diberi upah Rp 25 ribu, namun semenjak harga cabai mahal upah kami Rp 35 ribu dalam perkilonya. Umpama dari pagi-siang dari tiap orang bisa memetik hingga 10-15 kilo kan tinggal ngalikan sudah," tambah seorang buruh tani pemetik cabai, Jumasin (65).

Sementara itu, Kepala Seksi Usaha Perdagangan dan Pengembangan Ekspor, Dinas Koperasi Peridustrian dan Perdagangan (Diskoprindag) Bondowoso, Ida Kurnia Theolita, membenarkan mahalnya harga cabai yang terjadi di beberapa pasar Bondowoso.

"Berdasarkan pantaua dari kami, memang benar mahalnya harga cabai di beberapa pasar dipicu oleh kurangnya stok pengiriman dari pemasok. Yang disebabkan oleh cuaca yang tidak stabil, sehingga menyebabkan tanaman para petani banyak yang mati," terangnya saat dikonfirmasi terpisah, kemarin (21/1/2020) di Kantor Diskoprindag Bondowoso.

Sejauh ini dari pihak Diskoprindak Bondowoso masih terus melakukan pemantauan dan secepatnya akan dilaporkan ke Diskoprindag Provinsi Jawa Timur. "Kami memprediksi, harga akan kembali normal seiiring dengan berkurangnya intensitas hujan yang diperkirakan terjadi pada Februari," tutupnya.


Kontributor : Bahrullah
Editor : Imam Hairon
Publisher : Arifin
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar