default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Tipu Ratusan Juta Abdul Ghofur Akhirnya Dicokok Polisi

Tipu Ratusan Juta Abdul Ghofur Akhirnya Dicokok Polisi
Peristiwa Daerah
Kapolres Lamongan AKBP Harun didampingi Kasatreskrim AKP David Manurung konferensi pers
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

LAMONGAN - Abdul Ghofur (38), warga Dusun Mloko Desa Gempoltukmloko, Kecamatan Sarirejo ternyata sangat lincah menipu orang yang menjadi pasiennya.

Hasilnya ia berhasil memperdaya dan menipu Umbar Waluyo (26), hingga Rp. 450 juta. Anehnya korban asal Dusun Krajan Desa Sukobendu, Kecamatan Mantup tersebut selalu menuruti keinginan Abdul Ghofur.

Padahal korban hanya dikasih barang-barang palsu oleh tersangka, seperti berlian, lempengan emas, uang asing palsu dan berupa barang lainnya.

Peristiwa bermula di rumah tersangka Abdul Ghofur. Dimana pada bulan Februari 2019, korban dikenalkan oleh Robi (perantara) dengan tersangka.

Tiga hari kemudian korban datang ke rumah tersangka, dan diberi lima buah berlian oleh tersangka. Namun ia harus memberikan uang sebagai pengganti sebesar Rp. 5.7 juta.

Tersangka mengatakan, bahwa suatu saat barang tersebut akan menjadi uang, namun setelah barang tersebut diberikan ke ahli berlian ternyata barang tersebut sintetis atau palsu.

Barang tersebut kemudian diserahkan kembali kepada tersangka, sambil nunggu berlian tersebut disempurnakan.

Tersangka memberikan lempengan emas kepada korban, namun harus kembali membayar mahar sebesar Rp. 17 juta.

Lempengan emas tersebut kemudian diuji keasliannya di pegadaian dan hasilnya lempengan emas tersebut palsu, lalu lempengan emas tersebut diserahkan kembali tersangka dan akan disempurnakan.

Setelah itu tersangka membuka gudang harta dan mengeluarkan dua buah keris, satu buah tongkat komando kuningan, satu buah pecut dari besi kuningan, satu buah cakar elang kuningan, satu buah kujang kuningan, dua buah pring (bambu) petok.

Selesai mengeluarkan barang-barang tersebut tersangka kemudian meminta uang mahar sebesar Rp. 21 juta, dengan berdalih suatu saat barang-barang tersebut akan jadi emas.

Tersangka kemudian memberikan samurai dengan dalih untuk membuka pintu gudang harta dan meminta uang kepada korban sebesar Rp. 45 juta.

Kemudian tersangka memberikan dua buah giok dan meminta uang sebesar Rp. 50 juta. Lalu giok tersebut diperiksakan ke Surabaya dan dinyatakan palsu. Korban kemudian menyerahkannya kepada tersangka untuk disempurnakan.

Setelah berbagai upaya gagal lalu tersangka mencari solusi atau alibi untuk mengeluarkan uang. Kemudian tersangka meminta uang Rp. 15 juta, dengan alasan untuk membeli burung cucakrowo untuk mewujudkan uang.

Dan meminta uang kembali sebesar Rp. 50 juta, untuk membeli enam ckor burung cucakrowo. Kemudian tersangka membawa  satu buah karung atau sak warna putih yang berisi uang pecahan seratus ribu rupiah.

Karung tersebut kemudian diikat dan diberikan kepada korban, dengan catatan agar tidak dibuka korban sebelum mendapatkan burung gagak mata merah, mata biru dan mata hitam.

Korban begitu tak berdaya, sehingga memberikan uang kembali sebesar Rp. 36 juta untuk membeli burung gagak mata merah, Rp. 7 juta untuk membeli burung gagak mata hitam, Rp. 25 juta untuk membeli burung gagak mata biru, Rp. 24 juta untuk membeli tiga ekor burung merak.

Tidak cukup disitu, tersangka meminta uang lagi sebesar Rp. 5 juta 700 ribu, dengan alasan untuk ubo rampen (kelengkapan ritual) persiapan membuka karung dan menunggu hari baik untuk membuka karung tersebut.

Sambil menunggu hari baik tersangka menyuruh korban untuk membangun musholla di rumah tersangka yang menghabiskan uang sebesar Rp.94 juta, dengan janji, setelah Musholla berdiri barang-barang tersebut bisa berhasil jadi uang.

Tersangka kemudian memberikan uang UERO sebanyak 100 lembar dan meminta uang sebesar Rp. 9.3 juta, namun ternyata UERO tersebut tidak memenuhi syarat.

Tersangka memberikan sertifikat dan uang ringgit brunei pecahan 10 ribu dan meminta uang sebesar Rp. 33 juta, namun ternyata sertifikat dan uang tersebut juga palsu.

Dan setelah itu karung rahasia dibuka dan ternyata isinya hanya daun pisang kering dan sarung serta keris, tongkat komando kuningan, pecut dari besi kuningan, cakar lang kuningan, kujang kuningan, dua buah pring petok tidak jadi uang.

Kapolres Lamongan AKBP Harun didampingi Kasatreskrim AKP David Manurung dan Kasubbag Humas AKP Djoko Bisono dalam konferensi pers, Senin (17/2), siang, menjelaskan, merasa tertipu ratusan juta korban akhirnya malapor ke Polres Lamongan.

"Jadi modus operandi yang dilakukan tersangka ini dengan memberikan barang pada korban, kemudian ia meminta uang sebagai gantinya. Selain itu tersangka juga berjanji bisa mengandakan uang milik korban," ujar Alumnus Akademi Kepolisian 2001 ini.

Setelah mendapat laporan, kata Harun, petugas langsung melakukan penangkapan di rumah tersangka, namun ternyata sudah tidak ada di rumah atau kabur.

"Dari hasil pulbaket tersangka terdeteksi berada di Yogyakarta. Selanjutnya pada hari Minggu malam tanggal 1 Pebruari 2020 anggota berangkat ke Yogyakarta untuk melakukan pencarian dan Penangkapan," tegasnya

Sesampainya di Yogyakarta, ternyata tersangka sudah berpindah pindah tempat mulai dari Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Ngawi, Kertosono, Jombang, Kediri, Blitar, Malang.

"Hingga akhirnya pada hari Selasa 4 Februari 2020, Sekitar pukul 21.25, anggota berhasil mengamankan tersangka di tempat persembunyiannya di Kabupaten Tulungagung," jelas penyidik KPK 2009-2017 ini.

Tersangka dijerat pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan," pungkasnya


Kontributor : M Nur Ali Zulfikar
Editor : Imam Hairon
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar