default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Wabah Corona di Indonesia, Islam solusinya

Wabah Corona di Indonesia, Islam solusinya
Suara Pembaca
Karikatur Corona (Dodi Budiana/Tim Creative Suara Indonesia)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

 

Oleh = Ummu Fillah

Sehubungan dengan adanya pandemi, virus Covid - 19 ( wabah Corona) di Indonesia pemerintah menghimbau masyarakat untuk melakukan karantian secara  mandiri di rumah  mulai terhitung senin, 16 maret 2020 sampai 14 hari kedepan. Pandemi adalah tingkat tertinggi untuk darurat kesehatan global dan menunjukkan bahwa wabah yang meluas ini dapat mempengaruhi banyak wilayah didunia. Epidemi  pertama wabah ini terjadi di China hingga menjangkau beberapa negara secara bersamaan.


Lambatnya penanganan Covid - 19 di Indonesia

Sejak kasus virus Corona masih dengan istilah pneumonia di Wuhan,China pada akhir tahun lalu 2019 hingga menjadi pandemi 11 maret 2020. Pemerintah sebagai pemimpin langsung task force untuk menangani persebaran virus Corona dinilai begitu lambat. Pasalnya risiko merebaknya virus itu ke Indonesia sudah diperingatkan pelbagai pihak. Mulai dari pakar medis, media massa, penelitian luar negeri hingga badan kesehatan dunia ( WHO ) yang akhirnya menyatakan Corona pandemi pada 11 maret 2011. Selain  itu, langkah pencegahan di gerbang - gerbang wilayah Indonesia serta informasi publik mengenai risiko kemungkinan infeksi Corona di Indonesia yang terus mendatangkan keraguan sepanjang Januari - Februari.

Setidaknya ada tiga point penting yang harus dilakukan pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam penanggulangan  dan mitigasi Corona. Pertama, tes spesimen untuk menguji risiko Corona tidak hanya terpusat di Jakarta. Sayangnya ini dilakukan setelah diketahui sejak adanya pasien positif pertama. Dan belakangan terkuak ada surat dari WHO ke pemerintah bertanggal 10 Maret 2020 yang meminta tes risiko infeksi Covid - 19 tak lagi dilakukan terpusat. Kedua, informasi rekam jejak pasien positif Covid - 19 yakni dimana dan kapan, bukan identitas sang pasien. Transparansi informasi inilah yang sudah dilakukan negara lain lakukan terkait penyebaran virus ini dipengaruhi oleh mobilitas orang yang terinfeksi. Pemberian informasi terkait pun tak melanggar UU Nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan justru menjadi kewajiban disaat wabah melanda negeri. Menyembunyikan informasi guna menghindari kepanikan ditengah masyarakat bukan alasan yang bijak. Ketiga pemerintah  perlu memastikan  jaminan mutu manajemen, respon darurat yang cepat dan mudah bagi masyarakat Indonesia dengan kapasitas ruang isolasi medis diseluruh wilayah.


Dalam kondisi,  pandemik tidak cukup bijak jika kebijakan yang berbeda - beda  setiap daerah dalam menentukan status bencana. Mesti ada kebijakan  nasional yang diikuti oleh seluruh pihak, termasuk seliruh kepala daerah. Pandemi ini tidak mengenal daerah" kata Ketua DPP PKS Mardani Ali ketika dihubungi detikcom, Minggu ( 15/3/2020 ). Menurut Bapak Mardani hanya Pemerintah yang punya Otoritas terkait status bencana, bukan daerah.

Dalam rapat kerja Kementrian perdagangan 2020 di Istana Negara, jakarta, Rabu (4/3/2020). Pemerintah mengingatkan  jajaran Kemendag agar segera mencari jalan keluar dari krisis yang disebabkan oleh virus Corona ( Covid - 19). ( Liputan 6.com/ Faizal Fanani). Disaat  Indonesia positif Corona bertambah menjadi 117 orang dari 96 sebelumnya, masih memikirkan perdagangan yang mengalami krisis. Bukankah nyawa rakyat lebih penting diatas pundi - pundi rupiah dan kepentingan investasi. 

Solusi Islam dalam menghadapi wabah virus Corona


 Dalam hadits nabi, Rasulullah sholallahu 'alaihi wa salam bersabda "jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya. ( HR.Bukhari & Muslim). Inilah yang disebut Lock Down oleh bangsa Barat.

 Sejarah ini diambil dalam kisah 14 abad yang lalu ketika khalifah Umat bin khottob melakukan perjalanan dari madinah ke Syam. Ketika diperbatasan memasuki Syam, khalifah mendengar ada wabah Tha'un Amwas yang melanda negeri, dari sinilah Khalifah Umar mengambil jalan keluar untuk tidak masuk ke Syam, bukannya karena takut tapi karena hadits yang Rasulullah sampaikan diatas.

 Singkat cerita gubernur Syam abu Ubaidah meninggal dalam wabah tersebut. Sekitar  20  ribu orang wafat termasuk diantaranya sahabat Muadz bin Jabal, Suhail bin Amr dan sahabat - sahabat mulia lainnya Radiyallahuanhum. 

Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Hasil tadabbur beliau berkata " Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api.Jauhilah dan berpencarlah dengan menempati gunung - gunung".  Inilah yang diadopsi Barat dengan istilah social distancing.

Lockdown dan social distandcing ini bisa berhasil jika pemerintah memberi perintah yang sama dari hulu ke hilir, tidak diserahkan ke daerah. Lebih penting lagi, tercukupinya kebutuhan yang menjadi hajat hidup selama Lockdown dan social distandcing diberlakukan serta tidak membuka jalur masuknya WNA didalam Negeri sampai wabah bener - bener usai. Bukan karena kepentingan ekonomi dan manfaat justru periayahan umatlah menjadi prioritas. 

Dari sinilah bisa kita ambil kesimpulan sahabat fillah dimanapun berada, Sistem Islamlah yang mempunyai solusi dalam setiap problematika kehidupan. Kita bisa   ikhlas menerima jika penyakit adalah qadla dan qadar yang Allah tetapkan untuk menguji, tetap berhusnudzon terhadap segala ketetapan Allah.

 Berikhtiar semaksimal mungkin karena wabah ini adalah ujian sebagaimana hadits Rasulullah " Tha'un merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin ".

Maka tidaklah seorang hamba yang dilanda wabah lalu ia menetap dikampungnya dengan penuh kesabaran dan mengetahui dan mengetahui bahwa tidak akan menimpa kecuali apa yang Allah SWT tetapakan , bagianya pahala orang yang mati syahid.( HR. Bukhari dan Ahmad).

 Firman Allah SWT dalam QS at Taghabun ayat 11 " Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang) , kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." 

Dan hendaklah kita bertawakal, berikhtiar yang keduanya adalah kewajiban atas apa - apa yang telah Allah tetapkan. 

Allahu a'lam bish showab

 

Tulisan artikel yang dimuat di suaraindonesia.co.id adalah murni karya suara pembaca dan bukan menjadi tanggungjawab dari redaksi.


Kontributor :
Editor : Chandra Kirana
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar