Negara Tak Berdaya Lawan Corona, Ajak Rakyat Berdamai Saja

Negara Tak Berdaya Lawan Corona, Ajak Rakyat Berdamai Saja
Suara Pembaca
Gambar Ilustrasi (Karikatur: Dodi Budiana)

Oleh : Miftah Karimah Syahidah

(Koordinator BMI Community Jember)

Siapa yang menyangka bahwa dunia akan dikacaukan oleh makhluk kecil bernama corona (covid-19). Makhluk kasat mata, namun telah memakan korban jutaan nyawa. Tak hanya Indonesia, virus covid-19 ini telah mengobrak-abrik ratusan negara, bahkan sang adidaya, Amerika dan cina. Namun, ditengah heroiknya dunia menghadapi pandemi ini, ada seruan untuk berdamai saja dengan corona? Ya, itulah yang disampaikan orang nomer satu di negara RI melalui video yang diunggah di akun Twitter miliknya, @jokowi, Jumat (8/5/2020). Dalam video tersebut Presiden Jokowi meminta masyarakat berdamai dengan corona sampai vaksin ditemukan. Pernyataan Presiden Jokowi untuk berdamai dengan corona ini sontak mendapat sorotan di jagat raya dunia maya. Pasalnya, pernyataan itu berbeda dengan apa yang disampaikan Presiden Jokowi dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu. Saat itu Presiden Jokowi mengajak negara-negara anggota G20 untuk 'perang' melawan virus corona. Ia juga mendorong G20 memimpin upaya menemukan penawar penyakit akibat virus tersebut (cnnindonesia.com). Tapi mengapa sekarang malah ngajakin damai saja?

Ciutan seorang kepala negara tentu tak bisa dianggap enteng. Ciutan tersebut pasti mengandung makna politis yang harus cerdas dipahami oleh rakyat.  Lantas, apa maksud ajakan untuk berdamai dengan corona? Jika yang dimaksud berdamai dengan conona adalah masyarakat harus menerimanya sebagai qadla (ketetapan) Allah SWT dan manusia harus tetap melakukan upaya terbaik, tentu semua orang tau dan sepakat. Karena Islam mengajarkan bahwa wabah penyakit adalah qadla Allah SWT yang harus diterima dengan lapang dada sebagai bentuk keimanan pada sang pencipta. Namun, jika yang dimaksud berdamai adalah membiarkan wabah ini terus menyebar tanpa ada upaya serius dan tegas untuk menyelesaikannya. Tentu hal ini tak bisa dibenarkan. Apalagi, sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret lalu, kasus positif corona di Indonesia terus bertambah. Dari data yang selalu dipaparkan pemerintah, belum pernah sehari pun jumlah kasus positif corona turun. Bahkan berdasarkan data pemerintah hingga Rabu (13/5/2020) pukul 12.00 WIB, total ada 15.438 kasus Covid-19 di Indonesia, jumlah tersebut bertambah sebanyak 689 kasus baru dalam 24 jam terakhir (nasional.kompas.com). Bayangkan hampir 700 kasus baru dalam satu hari. Apakah ini buah dari ‘Indonesia harus berdamai dengan corona’?

Menurut Pengamat Politik, Rocky Gerung, statement presiden untuk berdamai dengan corona adalah ungkapan putus asa. Hal itu diungkapkan Rocky Gerung melalui channel YouTube Rocky Gerung Official pada Minggu (11/5/202020). Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Slamet Ma'arif yang menyatakan bahwa Presiden Jokowi gagal menangani pandemi virus corona karena tak konsisten menerapkan kebijakan yang ditetapkan dalam menekan penyebaran virus tersebut. Awalnya, pemerintah membatasi semua kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan beribadah. Namun beberapa waktu belakangan, pemerintah berencana melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) karena pertimbangan ekonomi. (CNNIndonesia.com). Jelas kebijakan pelonggaran PSBB ini berpijak pada kepentingan para pegusaha. Mengapa? Karena lesunya ekonomi akibat pemberlakuan PSBB telah berimbas pada aktivitas usaha yang mereka jalankan. Gelombang PHK secara besar-besaran adalah fakta yang tak terelakkan. Dari realitas yang ditemui di lapang, makna ‘damai’ dengan corona, agaknya maksud kedualah yang lebih tepat. Penguasa hari ini meminta rakyat untuk ‘nrimo’ karena penguasa bisa dikatakan juga tak terlalu serius dan cenderung abai terhadap penanganan wabah.

Sungguh ironis! Di saat tenaga medis berjuang untuk menyelamatkan nyawa bahkan tak jarang mereka pun harus merenggang nyawa, di saat rakyat kebingungan harus berbuat apa menghadapi pandemi yang mengancam nyawa, negara justru mengambil kebijakan yang kontradiktif, bahkan dari kebijakan yang ada, negara tampaknya cenderung mengedepankan aspek ekonomi dibandingkan nyawa rakyat. Dengan dalih berdamai dengan corona, pemerintah membiarkan rakyatnya bertaruh nyawa memenuhi kebutuhannya sendiri meski dalam kondisi yang masih sangat rentan terhadap wabah. Dan ini adalah buah dari penerapan sistem kapitalisme di negeri ini yang selalu  mengedepankan maal (uang/ekonomi) di atas segalanya. Kemanusiaan bukan lagi menjadi pertimbangan atas lahirnya kebijakan negara, karena aspek kemanusiaan dalam sistem kapitalisme diserahkan kepada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Miris! Padahal Rasul SAW bersabda:”Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim” (HR. An Nasa’i).  Dengan paradigma ini harusnya negara menjadikan rakyat sebagai unsur utama yang harus diselamatkan. Karena rakyat ibarat gembalaan yang perlu dijaga dan dirawat. Sehingga Dalam kondisi pandemi seperti ini, pemimpin harusnya mengambil tindakan yang cepat dan tegas, tanpa mempertimbangkan masalah materi, fokus utama mereka adalah keselamatan nyawa rakyat.

Lantas, apakah berarti Islam abai terhadap stabilitas ekonomi? Tentu tidak. Paradigma kepemimpinan sebagai pelayan umat justru mewajibkan penguasa dalam Islam menjamin seluruh kebutuhan pokok masing-masing individu warganya. Hingga mereka bisa fokus ikhtiar untuk memutus rantai wabah, dan tetap tenang karena kebutuhan pokoknya dijamin oleh negara. 

Pemimpin seperti ini tidak akan mudah didapat. Karena pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, menjadikan ketaatan tertinggi hanya pada Allah, memiliki tujuan memimpin untuk memperoleh rida Allah, dan yakin bahwa apa yang dipimpinnya akan diminta pertanggungjawaban. Model kepemimpinan seperti ini hanya dapat ditemukan dalam pemerintahan Islam khilafah yang menjadikan kedaulatan berada di tangan Allah ( As Syari’) bukan di tangan manusia yg lemah dan terbatas.

 


Kontributor : Suara Pembaca
Editor :
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar