Membaca Arah Gerak RUU HIP

Membaca Arah Gerak RUU HIP
Suara Pembaca
Fauzan Rois Afdholi, Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Kader GMNI UMM.

Oleh : Fauzan Rois Afdholi (Mahasiwa Prodi Kesejahteraan Sosial UMM, Kader GMNI UMM)

RUU HIP Adalah kepanjangan dari rancangan undang – undang haluan ideologi pancasila. Tujuan dari RUU ini karena belum adanya landasan hukum yang mengatur haluan idelogi pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan pembahasan RUU ini telah disepakati oleh DPR RI dari 7 fraksi di antaranya PDI Perjuangan, GERINDA, GOLKAR, NASDEM, PKB, PPP dan PAN. Sementara itu DEMOKRAT memilih tidak ikut campur atau tidak menyampaikan pendapat dengan berbagai pertimbangan dan kondisi sekarang, sedangkan PKS sepakat jika mengakomodasi TAP MPRS tentang pelanggaran komunisme dan larangan ajaran marxisme/leniesme di indonesia. 

Sebenarnya jika dilihat dari aspek sosial RUU HIP sangat membantu mempermudah dalam memahami dan mengamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara jika pancasila bisa dipahami lebih ringkas dengan mengutip isi dari pidato bung karno (1 Juni 1945) yang dimana ketika kita keberatan dengan pancasila maka kita bisa menggunakan trisila dan jika kita masi keberatan dalam memahi dan mengamalkan maka kita bisa menggunakan ekasila yang berbunyi sosio demokrasi yang diserap menjadi gotong royong.

Yang mana kita sebagai bangsa indonesia harus saling menolong, saling mengisi, saling menguatkan satu dengan lainya dengan berlandaskan semboyan kita yaitu Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jiwa. Yang mana jiwa bangsa yang kaya akan keberagaman suku, ras, budaya, agama, dan lainya dan tidak boleh berlandaskan atas satu keyakinan atau satu golongan “semua untuk semua”.

Dengan adanya keberagaman dan berbagai latar belakang tersebut maka sangat mungkin jika sering terjadi polemik di masyarakat jika ada kebijakan baru dari pemerintah tapi hal tersebut juga baik karena semakin banyak spekulasi di masyarakat menandakan semakin banyak orang yang mau berfikir dan peduli pada bangsanya. Maka semakin baik pula kebebasan berpendapat dan demokrasi di negri ini. Tapi yang perlu digaris besari di situasi sekarang adalah kurang adanya keterbukaan fikir dimasyarakat akan trauma masa lalu yang masih membekas hingga sekarang karena situasi politik di masa lalu yang belum jelas. Sehingga sangat mudah masyarakat terprovokasi jika dibenturkan akan sejarah dan keberlangsungan sebuah bangsa dimasa yang akan datang, jadi disituasi sekarang sangat diperlukan peran berbagai elemen masyarakat untuk saling mengedukasi satu dangan lainya dengan berbagai sudut pandang baik dari sisi postif maupun negatif tanpa memprovokasi dan menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Sehingga kesetabilan sosial politik di indonesia tetap kondusif sehingga tidak mudah untuk di adu domba oleh pihak yang tidak bertanggung jawab demi mengambil keuntungan di situasi sekarang. jika situasi sosial politik tetap stabil maka akan semakin menguatkan pula rasa persaudraan di masyarakat dan semakin harmonis pula hubungan di masyarakat dengan mengedepankan g o t o n g r o y o n g.

Terakhir apapun hasilnya akhirnya nanti kita sebagai masyarkat yang pintar dan terdidik jangan mudah untuk di adu domba dan tetap mengutakaman gotong royong tetap jalin kebersamaan dan saling menghargai satu dengan lainya sehingga dengan adanya kesadaran saling menguatkan maka P A N C A S I L A akan tetap abadi dan menjadi rumah untuk semua golongan.


Kontributor : -
Editor : Swandy Tambunan
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar