Sekolah Ditengah Pandemi  ‘Urusan Anak Jangan Coba-coba’ 

Sekolah Ditengah Pandemi  ‘Urusan Anak Jangan Coba-coba’ 
Suara Pembaca
Gambar Ilustrasi (Karikatur: Dodi Budiana)

Oleh :  Dr. Dwi Astutik SAg MSi

Dewan Pendidikan Jatim/ Ketua Forum PAUD Jatim

Juli, bulan awal masuk sekolah yang mendebarkan.  Biasanya debar ini dirasakan oleh anak – anak yang akan masuk sekolah karena bakal bertemu teman – teman barunya. Debar karena naik satu level klas, pakai buku – tas – sepatu  dan baju baru. Tapi kali ini beda, yang berdebar – debar ganti para orang tua / wali murid. Debar karena was – was alias ‘khawatir’ anak – anaknya akan masuk sekolah ditengah pandemi.   

Para orang tua / wali murid menunggu pengumuman dari sekolah. Sekolah menunggu intruksi Kepala Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten / Kota masing – masing, semuanya terkait pola pembelajaran Tahun Ajaran  2020/2021 tetap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau tatap muka ? 

Sementara Pandemi Covid-19 di Indonesia sudah 4 bulan berjalan semenjak 2 Maret 2020 kasus pertama diumumkan. Begitu dahsyat daya rusaknya. Pandemi telah merubah tatanan kehidupan.  Multiplier effect pandemi termasuk pada dunia pendidikan mengalami disrupsi. Fenomena yang ada terjadi pergeseran aktifitas pembelajaran di sekolah. Pembelajaran awalnya dilakukan dengan tatap muka beralih ke dunia maya yakni menggunakan digital dengan pola PJJ.

Setelah dilakukan proses PJJ baik dengan daring (online) maupun luring (offline) terdapat kelebihan dan kekurangan. Diantara kelebihan pembelajaran jarak jauh menurut Rusman (2011:351) 1. Peserta didik dapat belajar atau me-review bahan pelajaran setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan. 2. Bila peserta didik memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat mengakses di internet secara mudah. 3. Baik pendidik maupun peserta didik dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak. 4. Peserta didik dapat benar-benar menjadi titik pusat kegiatan pembelajaran karena ia senantiasa mengacu kepada pembelajaran mandiri. Adapun kekurangan pembelajaran Jarak Jauh adalah 1. Kurangnya interaksi antara pendidik dan peserta didik atau bahkan antar sesama peserta didik itu sendiri. 2. Gangguan jaringan atau sinyal internet dan keterbatasan kuota dapat menghambat kegiatan pembelajaran. 3. Peserta didik yang kurang memiliki motivasi yang tinggi cenderung gagal. 4. Selain itu Belajar Dari Rumah (BDR) dengan PJJ dalam tempo yang cukup lama / berbulan – bulan ternyata mengalami kebosanan (boring). Akhirnya anak ingin bertemu teman – teman dan guru secara fisik atau belajar dengan tatap muka tentunya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Mengingat Tahun ajaran 2020/2021 kurang beberapa hari lagi maka perlu mengacu Surat Keputusan Bersama 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 di masa Pandemi Covid-19. Satuan Pendidikan yang berada di daerah zona hijau dapat melakukan tatap muka dengan seizin Pemerintah Daerah. Adapun daerah yang dalam kondisi zona kuning, orange dan merah dilarang melakukan pembelajaran dengan tatap muka disatuan pendidikan dan tetap melanjutkan Belajar Dari Rumah (BDR). Keputusan Bersama 4 Menteri ini dilakukan dengan tahapan – tahapan strategi yang telah ditentukan dan persyaratan – persyaratan yang harus dipenuhi.

Pola pembelajaran tatap muka  harus memenuhi persyaratan protokol kesehatan. Terdapat 9 item yang perlu disiapkan di setiap sekolah diantaranya : 1. Termogun, 2. Hand Sanitizer, 3. Kran cuci tangan dengan air mengalir dan sabun, 4. Masker cadangan, 5. Toilet bersih, 6. Disinfektan dan alat penyemprot, 7. UKS lengkap, 8. Ruang Belajar yang memenuhi jarak fisik 1,5m yang non SLB dan PAUD. 9. Mampu mengakses fasilitas layanan kesehatan (Puskesmas, klinik. Rumah sakit atau lainnya). Pertanyaannya mampukah setiap sekolah memenuhi 9 item standart protokol kesehatan tersebut ?

Selain infrastruktur kesehatan harus dipenuhi, tata kelola baru pembelajaran juga harus di planning dengan tepat. Pengaturan jumlah siswa dalam klas, lama sekolah, perlu sif/rolling atau paralel yang semuanya disesuaikan dengan jumlah ruang klas dan jumlah guru yang dimiliki tiap lembaga. Sudah siapkah ?

    Mengatasi pandemi Covid-19 tidak cukup hanya urusan materiil di luar manusia yang harus disiapkan, akan tetapi urusan personal manusia kaitannya dengan kesiapan jiwa dan skill baik orangtua maupun guru harus tuntas atas dirinya, maksudnya tidak ada masalah didalam dirinya. Karena harus segera membantu anak – anak dan siswanya. Berdasarkan tiga tahapan yang dialami manusia pada masa adaptasi menghadapi pandemi Covid-19 yakni dengan tanda – tanda awal mengalami punic buying, ketegangan, marah dan akhirnya berefek pada belanja berlebih hingga menimbun barang. Yang kedua; ada masa belajar menerima kenyataan dengan berhenti membaca berita yang menimbulkan kecemasan dan menyeleksi berita hoax. Hingga mulai sadar diri mematuhi himbauan pemerintah atas protokol kesehatan. Yang terakhir tumbuh rasa empati yakni mulai memikirkan orang lain. 

Jadi masa adaptasi bagi orang tua dan guru diharapkan segera selesai dan selanjutnya segera bisa membantu anak dan siswanya secara maximal untuk mengatasi berbagai macam bentuk disrupsi. Orang tua dan para guru diharapkan mampu menyemangati dan menetralisir situasi dan kondisi dengan membuat tetap semangat dan ceria saat mendampingi anak – anak dan siswanya. Pendampingan yang menyenangkan dan menyemangati harus selalu dilakukan oleh guru apalagi dalam situasi pandemi dimana pembelajarannya menggunakan pembelajaran jarak jauh diharapkan lebih inovasi dalam melakukan proses pembelajaran. Empat kompetensi guru yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional  harus dimaximalkan dan dikolaborasi menjadi suatu rangkaian stimulasi layanan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.

Bagaimana pembelajaran dengan tatap muka saat pandemic Covid-19 ? ketika diberlakukan dengan ketat protokol kesehatan terjadi keterkejutan anak secara spontan atas perubahan social yang ada. Hal ini akan nampak pada : Pertama, Interaksi social antar anak yang biasa dilakukan dengan spontan, ternyata tiba-tiba ada perubahan aturan sosial atas perlakuan  kebiasaan atau budaya ber-interaksi dengan teman.  Kedua, juga kaitanya dengan sikap etika ajaran agama hormat pada guru, yang di Negara Indonesia diekpresikan dalam budaya berjabat tangan / cium tangan dll. Ternyata terdapat perubahan tatanan interaksi social antara anak dengan guru. Sehingga pembelajaran dengan tatap muka akan perpengaruh pada kesiapan psikososial anak. Jadi urusan yang satu inipun juga belum selesai, perlu adaptasi dan pendampingan yang cukup waktu. Sehingga perubahan social condition  yang membatasi prilaku sosial anak sungguh patut menjadi bahan pertimbangan, karena hal ini akan mempengaruhi perkembangan psikososial anak. Perkembangan psikososial merupakan kepribadian yang saling berkaitan dengan hubungan social. 

Namun menjadi dilema juga manakala guru atau lembaga pendidikan kurang menjaga ketat protokol kesehatan saat terjadi interaksi social anak, maka yang terjadi keamanan atas kesehatan anak terancam. Jangan sampai ada cluster baru penyebaran Covid-19 disekolah. Menjadi  ladang pembantaian masal seperti yang terjadi di beberapa Negara.

Finlandia; ada sebanyak 17 siswa dan 4 guru yang telah terpapar virus corona di sekolah menengah yang memiliki 550 siswa itu. Kini, semua siswa yang masuk sekolah saat pandemi dan dinyatakan positif terpapar Covid-19 melakukan karantina di rumah. Namun, beberapa kelas yang siswanya tidak terpapar Covid-19 akan melanjutkan sekolah seperti biasanya, dengan mengikuti pedoman kesehatan dan kebersihan. 

Prancis; melansir dari Dailymail via GridHealth, usai dibuka kembali sekolah. 1,4 juta anak kembali sekolah. Setidaknya ada 70 kasus Covid-19 yang dilaporkan yang terdeteksi di sekolah-sekolah. Kasus tersebut terjadi di kalangan penitipan anak dan sekolah dasar. 

Korea Selatan, 250 sekolah di buka dan sekarang ditutup kembali karena meningkatnya kasus Covid-19 saat masuk sekolah dengan pola tatap muka. 

Setelah kejadian bertambahnya kasus Covid-19 dibeberapa Negara termasuk Cina dalam cluster sekolah, selanjutnya otoritas negara-negara itu memilih melanjutkan sekolah daring atau pendidikan jarak jauh (PJJ) demi keselamatan anak walau terdapat kelebihan dan kekurangannya, 

Beda dengan Filipina justru memilih tidak akan membuka kembali sekolah di tengah pandemi yang belum usai. Pasalnya menurut Filipina membuka sekolah kembali di tengah pandemi akan mendatangkan risiko yang cukup tinggi. Bahkan Filipina bertekad tidak akan membuka sekolah sampai vaksin dari virus corona tersebut ditemukan. Filipina tetap memutuskan pembelajaran jarak jauh daring dan luring dengan menayangkan pelajaran sekolah di televisi.

Jadi berdasarkan beberapa persoalan yang ada dan contoh beberapa Negara maka dalam membuat keputusan pemberlakuan pola pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 tidak bisa main coba – coba karena  ‘urusan anak jangan coba – coba’. Keputusan ini menyangkut keamanan anak dan keberlangsungan generasi kita. Kesiapan orangtua, guru, Kepala Sekolah, Satuan Pendidikan juga akses Kesehatan dan Pemerintah menjadi bahan pertimbangan yang kuat. Keputusan Pemerintah Daerah adalah ujung tombak penentuan nasib. Jangan sampai kebijakan yang kurang tepat bereffek akan muncul masalah baru ‘Hungry man becomes angry man’. Tsumma naudzubilah


Kontributor :
Editor : Aji Susanto
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar