Aceh Timur Jadi Salah Satu  Claster Budidaya  Udang  Nasional

Aceh Timur Jadi Salah Satu  Claster Budidaya  Udang  Nasional
Peristiwa Daerah
Penandatangan Mou kerjasama Bupati Aceh Timur, H. Hasballah Bin HM. Thaib dengan  Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia, Slamet Soebjakto. Foto : Zulkifli.

ACEH TIMUR – Kabupaten Aceh Timur dijadikan salah satu claster percontohan budi daya udang nasional dari lima Kabupaten/Kota Se- Indonesia.  Program ini ditargetkan dapat meningkatkan produksi udang nasional dengan kualitas unggul, sehingga mampu neningkatkan ekonomi masyarakat dan juga daerah setempat. Kamis (16/7/2020).

Bupati Aceh Timur H. Hasballah Bin H.M. Thaib, SH atau yang akrab disapa Rocky memaparkan potensi peningkatan ekonomi berbasis kerakyatan di sektor petani nelayan, dalam acara menyambut  kedatangan Direktur Jendral (Dirjen) Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto bersama rombongan lainnya di Aceh Timur,pada  Rabu 15 Juli 2020 yang berlangsung di aula serbaguna Pendopo Idi.

Dalam kesempatan itu, Bupati Rocky mengatakan bahwa, Aceh Timur memiliki potensi besar untuk menampung program Nasional dalam bidang perikanan budidaya. Dengan luas wilayah sekitar  6,286 Km2 /Persegi, Kabupaten tersebut memiliki tambak air payau lebih kurang  18. 679 Hektare. Dan untuk tambak budidaya ikan air tawar lebih kurang 90,77 hektare. 

“Dengan luas tambak air payau yang hampir sama dengan luas sawah yakni 18 ribu hectare lebih itu, kita yakin mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Untuk itu kami sangat membutuhkan dukungan dari bapak Dirjen, pak Deputi, bapak  DPR RI, pak DPD dan dari semuanya yang ada disini, untuk membantu sarana dan prasarana infrasruktur pendukung lainnya,  guna  mendukung program ketahanan pangan nasional,” Kata Rocky.

Dijelaskan, berkaitan dengan sektor perikanan, bahwa dari 24 Kecamatan di Aceh Timur, 14  diantaranya merupakan Kecamatan pesisir dan 120 Desa pesisir  yang tersebar dari Kecamatan Birem Bayeun hingga Kecamatan Madat dengan panjang  124 Km garis pantai, luas Laut 1.683 KM2 dan luas perairan umum 1.322 hetare," terang Rocky. 

Disebutkan, untuk budidaya air tawar memiliki luas kolam lebih kurang 90,77 hektare dengan jumlah produksi 67,90 Ton per tahun. Sedangkan untuk budidaya air payau memilikj luas tambak lebih kurang 18.697 HA dengan jumlah produksi 13.509 pertahun dan masih banyak produksi andalan lain seperti, kepiting, ikan bandeng, ikan Nila, Lele dan induk Udang yang merupakan andalan nasional yang telah di ekspor ke luar negeri seperti Australia, Singapura, Thailand dan lain sebagainya," jelas Rocky. 

Rocky  yang telah menjabat sebagai Bupati Aceh Timur dua periode itu juga meminta agar Pemerintah Pusat bisa membantu menghadirkan industri hilir daerah tersebut, agar mampu menigkatkan harga jual bahan baku yang dihasikan dari petani dan nelayan. 

“Bapak-bapak sekalian, Kendala kita disini tidak memiliki industry, sehingga yang kita bawa keluar merupakan barang mentahnya, dan nanti akan dikirim kembali barang hasil olahan industry  ke Aceh Timur  yang  dijual lebih tinggi. Hal yang paling sedehana adalah industri pakan ternak, bahan baku dari kita seperti jagung dan ikan busuk, dikirim kesumatera utara, kemudian setelah diolah barang tadi pulang kampung dan dijual kepada petani dengan harga yang tinggi dipasaran," kata Rocky sambil tertawa.

"Insya Allah, kedepannya Pemerintah Aceh Timur melalui Dinas Perikanan akan mencoba bang udidaya udang galah dan ikan jurung yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Dapat kami sampaikan, bahwa hasil tangkap ikan pada tahun 2020 ini telah mencapai jumlah 28.750 Ton dengan kisaran nilai rupiahnya sebesar Rp. 680.000.000," demikian pungkas Bupati Aceh Timur H. Hasballah Bin H.M. Thaib, SH . 

Sementara itu, Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam sambutannya, mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tinggi atas terlaksanannya rapat koordinasi POKJA Percepatan Produksi Udang Nasional yang diselenggarakan langsung di Kabupaten Aceh Timur.

"Komoditas udang masih akan menjadi andalan ekspor produk perikanan Indonesia. Pertimbangannya selain kita punya daya saing komparatif tinggi yakni potensi pengembangan yang besar, juga udang merupakan komoditas yang memberikan share dominan terhadap devisa ekspor yakni sekitar 39% terhadap nilai total ekspor produk perikanan nasional," ungkap Slamet Soebjakto. 

Katanya, selama kurun waktu lima tahun terakhir ini (2015 - 2019) produksi udang nasional tumbuh rata-rata sebesar 8,9% per tahun. Dimana pada tahun 2019 tercatat angka volume produksi sementara mencapai 833.856 ton. Angka ini kita  akan terus tumbuh, seiring proyeksi permintaan pasar udang global yang akan terus naik.

"Pada masa Pandemi Covid-19, terutama dalam Triwulan I memang telah memberikan tekanan kuat terhadap kinerja ekspor udang nasional. Ini seiring dengan kebijakan pembatasan impor yang diberlakukan negara-negara tujuan utama ekspor seperti USA, China dan Jepang. Terutama jika melihat tren market ekspor, China mencatat penurunan market share yang cukup besar," terang Slamet Soebjakto. 

Namun demikian, memasuki era new normal, permintaan pasar kembali terbuka, bahkan saat ini harga udang tercatat cukup tinggi.

“Tentu ini adalah momentum yang harus kita manfaatkan segera, bagaimana kita melakukan upaya percepatan dalam meningkatkan supply share  pasar udang global saat ini. Oleh karenanya, forum ini harus menjadi titik awal komitmen kita dalam memberikan input sumber daya yang dimiliki masing-masing sektor dalam mendukung percepatan peningkatan produksi udang nasional," jelasnya.

 Slamet Soebjakto juga meminta Pemerintah Kabuapten Aceh Timur dapat mengelola dengan baik program tersebut, agar mampu membawa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kita sangat butuh dukugan dari berbagai pihak agar program ini bisa berhasil dan bisa dicontoh oleh Kabupaten / kota lainnya Se-Indonesia," pungkas Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia.

Kegiatan itu turut hadir, Bupati Aceh Timur H. Hasballah Bin H.M Thaib, SH, Slamet Soebjakto, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Anggota komisi  IV DPR RI, H. Muslim SH, MM,  Anggota DPD RI, H.M Salim Fakhry SE, MM, Wakil Komite II DPD RI, H. Abdullah Puteh, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Dr. Alan Frendy Koropitan, S.Pi., M.Si. dan Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA. Juga hadir Deputi Bidang Sumberdaya Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Sufrijadi, Direktur Penataan Kawasan Kementerian ATR, Jefri Rosiadi , General Manager (PLN) Unit Induk Wilayah Aceh  PUPR yang diwakili oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera 1, Ir. Djaya Sukarno, M.Eng, BKPM yang diwakili Kasubdit Wilayah Sumatera dan Kalimantan  Bapak Saribua Siahaan, LPMUKP-KKP, Syarif Syahrial, Para Direktur,  Asisten Deputi, Kepala Dinas yang membidangi Perikanan seluruh jajaran lintas sektoral terkait, Anggota Tim Pokja Percepatan Produksi  Udang Nasional dan Para Pembudidaya, dan seluruh stakeholders serta unsur Forkopimda dan Kepala OPD Aceh Timur. 


Kontributor : Redaksi
Editor : Alfian Nur
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar