Pesantren Gus Nur Gagal, Begini Sikap LSM Siti Jenar Situbondo

Pesantren Gus Nur Gagal, Begini Sikap LSM Siti Jenar Situbondo
Peristiwa Daerah
Ketum LSM Siti Jenar Eko Febrianto (berjaket hitam putih) saat menemui Gus Nur di sebuah rumah makan, 26/7/2020.

SITUBONDO- Rencana pendirian pesantren Tahfidz Qur'an di Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo oleh Gus Nur yang dipandang sebagai sebuah kekhawatiran tersendiri oleh LSM Siti Jenar akhirnya gagal. Hal itu kemudian dinilai sebagai pembelajaran.

"Menanggapi gagalnya Sugi Nur atau biasa yang kita kenal dengan Gus Nur untuk mendirikan sebuah pesantren di Besuki, Situbondo, semoga ke depannya menjadi sebuah pembelajaran untuk kita semua agar kita harus benar-benar selektif memilih guru apalagi pengasuh sebuah pesantren, untuk kita jadikan panutan karena gelar ulama itu buka gelar yang mudah," kata Eko Febrianto Ketum LSM Siti Jenar, Rabu (29/7/2020).

“Ulama itu seharusnya memiliki karakter abid (taat kepada Allah, red), arif, alim dan tidak mungkin berbicara sembarangan, apalagi menyebar ujaran kebencian di masyarakat. seperti yang kita khawatirkan kemarin kepada sosok Gus nur yang cukup kontroversi tersebut," lanjutnya.

"Kemudian saya berharap nantinya kalau ada tokoh / figur yang akan mendirikan sebuah lembaga pendidikan berbasis Islam seyogyanya calon pengasuh harus jelas keilmuannya, seperti lazimnya ulama-ulama kita, baik seperti Syekh Maulana Habib Lutfi di Pekalongan, serta para ulama-ulama kharismatik lainnya yang ada di Kabupaten Situbondo dan ulama- ulama NU lainnya," ujarnya lebih jauh.

“Dengan metode dakwah yang baik dengan bil hikmah, bil khasanah, bijaksana dalam tutur kata. Walaupun berdebat, harus dengan argumentasi dan rasional. Tidak seperti  apa yang dilakukan Gus Nur di beberapa konten dakwah YouTube beliau yang saya kira jauh dari reputasi serta representasi islam yang rahmatan lil 'alamin,” tambah pria asal Besuki ini.

Ketika disinggung perihal fakta sikap ormas lain atas penolakan pada Gus Nur, Eko mengatakan tak dapat berkomentar lebih jauh.

"Dalam hal ini saya tidak bisa berkomentar jauh ke arah sana. Mengingat kita beda organisasi dengan ormas tertentu atau banom- banomnya (badan otonomi, red)," ujarnya.

"Saya lebih fokus kepada track record tokoh dalam hal ini Sugi Nur, karena urusan mereka memang rumit bagaikan air dan minyak baik di daerah atau pun di pusat. Saya lebih fokus kepada dan mewakili warga masyarakat kami pasca kades Blimbing Edi Suhartono dan beberapa tokoh lainnya terkait adanya lahan jual beli oleh Haji Dodik dan Subhan itu akan didirikan ponpes milik Gus Nur," kilahnya.(*)


 


Kontributor : Irwan Rakhday
Editor : DP
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar