default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

80 Persen Mahasiswa Terpapar Paham Radikalisme, Sosiolog: Mereka Lebih Suka Ustad Google

80 Persen Mahasiswa Terpapar Paham Radikalisme, Sosiolog: Mereka Lebih Suka Ustad Google
Edukasi
Seminar 'Peran Santri dalam Memperkokoh Persatuan Bangsa' di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (18/10/2018)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

MALANG - Badan Intelijen Negara (BIN) pernah melakukan survey tentang maraknya paham radikalisme di dunia perkuliahan beberapa waktu lalu. Survey di 15 Provinsi itu menyebutkan sekitar 80 persen mahasiswa terpapar paham radikalisme.

Bahkan, dari angka itu, 41 persen sisanya setuju dengan pendirian Negara Islam Indonesia. Hanya 20 persen mahasiswa yang masih berada dalam garis aman atau tetap mendukung NKRI yang berlandaskan Pancasila.

Ahli Sosiologi Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Zuly Qodir menjelaskan, generasi milenial saat ini selalu bersikap reaksioner. Hal itu ditunjukkan dengan debat argumen tentang filosofi kenegaraan di media sosial.

"Sangat reaksioner. Berita yang di-share di grub WA tidak dicek terlebih dahulu kebenarannya," kata Zuly Qodir saat memberikan materi dalam seminar 'Peran Santri dalam Memperkokoh Persatuan Bangsa' di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis (18/10/2018).

Menurutnya, alasan generasi milenial mudah bersikap reaksioner disebabkan oleh proses pengajaran yang dilakukan oleh sekolah maupun perguruan tinggi yang sifatnya mendikte anak.

Lebih lanjut, mantan Presidium Nasional Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (2003-2007) itu menjelaskan, anak muda sekarang sedang di-drive dan diberi asupan indoktrinasi, sehingga kemampuan mereka dalam menganalisis semakin dibatasi.

"Sangat reaksioner dan setuju berlaku kekerasan, karena tidak perlu analitik dan informasi jelas, yang diberikan kepada mereka pernyataan-pernyataan yang tidak butuh dikonfirmasi," terangnya 

Dari survey yang dilakukan olehnya, ditemukan anak-anak dari kelas 3 SMA hingga semester III lebih menyukai informasi yang sifatnya pernyataan, ketimbang narasi yang membutuhkan analisis lebih lanjut.

"Anak-anak muda kita lebih suka Ustad Google, karena tidak perlu konfirmasi kebenarannya, seolah-olah semua yang disabdakan Ustad Google itu benar," katanya diikuti gelak tawa peserta.

Tidak adanya upaya konfirmasi dan analisis setiap informasi yang diterima, berimplikasi pada mudahnya seseorang terpapar paham radikalisme.

"Saya mengajak seluruh generasi muda agar selalu mengkonfirmasi dan menganalisis setiap informasi yang ada, sehingga tidak mudah terbawa arus global," imbaunya.


Reporter : Malang
Editor : Deni Ahmad Wijaya
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar