default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Mendamba Kota Santri Minim Kriminalitas

Mendamba Kota Santri Minim Kriminalitas
Suara Pembaca
Etti Budiyanti
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh : Etti Budiyanti

"Suasana di kota santri
Asyik senangkan hati
Tiap pagi dan sore hari
Muda mudi berbusana rapi
Menyandang kitab suci
Hilir mudik silih berganti
Pulang pergi mengaji."

Cuplikan lagu Suasana di Kota Santri itu benar-benar menggambarkan suasana kota Jember beberapa puluh tahun yang lalu. Namun, bagaimana faktanya sekarang?
Dikutip dari SURYA.CO.ID, angka kriminalitas di Kabupaten Jember tahun 2018 lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2017. Berdasarkan pemaparan Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo dalam konferensi pers Analisa dan Evaluasi Kinerja Polres Jember tahun 2018 diketahui angka kriminalitas tahun 2018 mencapai 1.810 kasus.
Angka ini berdasarkan laporan yang masuk ke Mapolres Jember. Sedangkan tahun 2017, laporan yang masuk mencapai 1.761 kasus. 

"Sebagai bentuk transparansi kami kepada masyarakat atas kinerja setahun kami, maka kami melakukan pemaparan hasil analisa dan evaluasi tahun 2018. Untuk laporan kriminalitas yang kami terima tahun 2018 memang ada kenaikan dibandingkan tahun 2017," ujar Kusworo, Senin (31/12/2018). 

Untuk indeks kriminalitas, polisi memetakan 11 indeks kriminalitas yakni pembunuhan, pencurian dengan pemberatan, pencurian kendaraan bermotor, penganiayaan berat, penipuan, penggelapan, perkosaan, perjudian, kepemilikan senjata api/bahan peledak dan narkoba. Indeks kriminalitas tertinggi adalah peredaran narkoba, penipuan, pencurian dengan pemberatan, pencurian kendaraan bermotor dan penganiayaan berat.
Sungguh miris melihat meningkatnya kriminalitas di kota santri ini.  Ada apa gerangan?  Bahkan julukan kota santri pun akan dieliminasi dengan julukan kota karnaval.

Penyebab Maraknya Kriminalitas

Menurut pendapat beberapa ahli, penyebab maraknya kriminalitas adalah :

Pertama, kemiskinan, merupakan penyebab dari revolusi dan kriminalitas ( Aristoteles)
 

Kedua,  kesempatan untuk menjadi pencuri ( Sir Francus Bacon,1600)

Ketiga, kehendak bebas, keputusan yang hedonistik dan kegagalan dalam melakukan kontrak sosial (Volfaire & Rousseau, 1700)

Keempat, atavistic  trait atau sifat-sifat anti sosial bawaan sebagai penyebab perilaku kriminal (Cesare Lembraso, 1835-1909)

Kelima, hukuman yang diberikan pada pelaku tidak proporsional (teori klasik lain).

Keenam, kurangnya iman dan taat pada Tuhan juga menjadi pemicu kriminalitas. Terkait hal ini, Syahid Murtadha Mutahhari mengatakan, "Semakin besar keimanan seseorang maka ia semakin mengingat Tuhan dan semakin manusia mengingat Tuhan maka semakin kecil ia melakukan maksiat. Perintah ibadah diturunkan untuk membuat manusia senantiasa mengingat Tuhan sehingga mereka selalu berpegang teguh pada akhlak mulia sistem hukum  Tuhan.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa tingginya kriminalitas dikarenakan tidak diterapkannya aturan agama dalam kehidupan (sekulerisme). Aturan sekulerisme menafikkan Allah SWT sebagai pembuat aturan. Menginginkan hidup yang penuh kebebasan. Bebas berakidah, berpendapat, bertingkahlaku serta berkepemilikan. Sehingga bagaimana bisa tercipta individu yang bertakwa, masyarakat yang mau beramar ma'ruf serta negara yang mau menerapkan aturan Allah, bila semuanya berlandaskan paham kebebasan. Padahal hanya dengan tiga pilar tersebut, maka aturan Allah akan tegak di bumi ini. 

Solusi Islam
Islam adalah agama yang sempurna. Sebagaimana firman Allah Surat Al Maidah 3 yang artinya : 
"...Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmatKu bagimu dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu...."

Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, yang mengatur hubungan manusia dengan Khaliqnya, dengan dirinya dan dengan sesama manusia. Hubungan manusia dengan Khaliqnya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya tercakup dalam perkara akhlak, makanan dan pakaian. Hubungan manusia dengan sesamanya tercakup dalam perkara mu'amalah dan uqubat (sanksi).
Islam memandang bahwa masyarakat adalah individu-individu yang memiliki  pemikiran, perasaan dan diikat dengan aturan yang sama yang berasal dari Allah SWT, pencipta manusia. 

Dengan demikian untuk menjaga masyarakat bukan ditentukan oleh aturan manusia tetapi berasal dari perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya. Aturan ini selalu tetap adanya, tidak akan berkembang atau berubah. Karena itu, melestarikan eksistensi manusia, menjaga akal, kehormatan, jiwa, pemilikan individu, agama, keamanan dan negara, adalah tujuan-tujuan utama yang sudah baku. Untuk menjaganya ditetapkanlah sanksi-sanksi yang tegas. Maka dibuatlah hukum-hukum yang menyangkut hudud (bentuk pelanggaran dan sanksinya dutetapkan Allah) dan uqubat (sanksi pidana).  Pelaksana sanksi adalah negara dan harus disaksikan khalayak, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat An Nur ayat 2, yang artinya : 

"(Dan) hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulandari orang yang beriman."
Sanksi-sanksi itu bersifat jawabir (penebus siksa akhirat) dan jawazir (pencegah terulangnya perbuatan yang sama). Sehingga sanksi-sanksi tersebut akan memberikan efek jera. 

Demikianlah, hendaknya setiap muslim maupun negara dalam menjalankan seluruh aktivitasnya harus menyesuaikan dengan perintah dan laranganNya. Inilah yang akan melahirkan ketenangan, hingga sedikitlah kriminalitas yang terjadi. Seperti telah dibuktikan masa Rasulullah dan sahabat.

Wallahu A'lam bishshowwab


*Penulis adalah member Akademi Menulis Kreatif dan Komunitas Muslimah Rindu Jannah


Oleh : Etti Budiyanti
Editor : Chandra Kirana
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar