default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Maraknya Rudapaksa, Tanggung Jawab Siapa?

Maraknya Rudapaksa, Tanggung Jawab Siapa?
Suara Pembaca
Penulis
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh: Eva Rahmawati (Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Kasus rudapaksa marak terjadi. Pelaku dan korban tak mengenal usia, muda dan tua tak jadi soal. Status hubungan sosial pun tak lagi diindahkan. Menyasar siapa saja, baik yang baru kenal, tetangga, sahabat, kerabat bahkan keluarga sendiri. Parahnya ada seorang ayah, tega merudapaksa anak kandung sendiri. Sungguh perlakuan hina, lebih rendah dari binatang. Bukan hanya satu atau dua kasus, namun telah banyak terjadi, kian lama makin 'menggila'.

Seperti baru-baru ini terjadi seorang ayah tega merudapaksa anak kandungnya sendiri hingga hamil. Kasus ayah menghamili anak kandungnya yang masih berumur 16 tahun terjadi di Gianyar, Bali. Persetubuhan sedarah atau inses ini diketahui, saat korban, GAMS (16) bersama ibunya hendak menggugurkan kandungannya ke sebuah rumah sakit di Gianyar. (TribunBali.com, 16/1/19)

Sebelumnya, Pria berinisial R (41) merudapaksa anak kandungnya selama 14 tahun. Sejak usia 4 tahun hingga 18 tahun baru terkuak. Hal tersebut diketahui setelah sang ibu korban berani lapor ke Polisi setelah mengetahui aksi bejad suami dari pengakuan korban. (TribunJakarta.com, 28/11/18)

Miris. Dua kasus rudapaksa tersebut pelakunya adalah ayah kandung sendiri. Ayah yang seharusnya melindungi, malah memangsa anak sendiri. Kasus rudapaksa tersebut merupakan fenomena gunung es, yang tampak di permukaan saja. Sudah tak amankah negeri ini, hingga pelaku kejahatan adalah anggota keluarga sendiri? Ada apa dengan bangsa ini? Lantas apa sebenarnya faktor-faktor penyebab tindakan rudapaksa tersebut?

Ada banyak faktor penyebab maraknya kasus rudapaksa, baik pelakunya keluarga maupun orang lain. Yang paling berperan adalah dijauhkannya agama dari pengaturan kehidupan. Agama hanya berperan dalam ranah ibadah saja, sedangkan untuk urusan kehidupan agama tak perlu mencampurinya. Alhasil, berdampak terjadinya krisis multi dimensional. Negeri ini dilanda berbagai keruwetan di bidang politik, ekonomi, sosial, dan juga kebobrokan moral.

Dalam kasus rudapaksa yang pelakunya adalah seorang suami/ayah dari korban, penyebabnya adalah terganjalnya pemenuhan naluri seksual kepada pasangan halalnya (istrinya), karena istrinya terpaksa keluar rumah untuk bekerja, atau keengganan istri melayani kebutuhan biologis suaminya karena kecapean bekerja. Akan berbeda ceritanya jika istri di rumah sebagai ummu wa robatul bait, pastinya akan fokus dan stand by ketika pasangannya menginginkannya. 

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda : “… jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak).” (HR. Ahmad 4/381)

Sedemikian besarnya problem yang ditimbulkan jika hasrat suami tak tersalurkan, untuk ini Allah murka terhadap istri yang menolak ajakan suaminya, sabda Rasulullah Saw. “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 3524)

Di samping faktor kesiapsiagaan istri, faktor lain adalah kurangnya pemahaman batasan aurat antar anggota keluarga (hanya suami dan istri yang tidak mempunyai batasan aurat). Dalam Islam ada aturan untuk memisahkan tempat tidur orang tua dan anak. Kemudian ada aturan seorang anak (sudah baligh) untuk meminta izin masuk ke dalam kamar orang tuanya dalam tiga waktu, sebagaimana firman Allah Swt.
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. (QS Al-Nur: 58)

Faktor berikutnya adalah maraknya konten pornografi dan pornoaksi. Aksesnya begitu mudah, dan pemerintah sepertinya setengah hati memberantas konten pornografi dan pornoaksi. Di tambah parah, dengan sanksi yang tidak memberikan efek jera, wajar lah kasus rudapaksa semakin merajalela.

Untuk mengatasinya, tidak hanya konsen pada satu sisi saja, misal baru ada penanganan ketika sudah ada korban, dan biasanya sanksi pidana baru diberikan ketika ada yang lapor. Selama tidak ada pelaporan, pelaku akan bebas dari jeratan hukum. Padahal banyak korban yang tidak melapor karena alasan malu, demi menjaga kehormatan keluarganya.

Penyelesaian dan upaya pencegahannya harus dilakukan secara menyeluruh dan sistemik. Maka, dibutuhkan sebuah sistem kehidupan yang mampu memecahkan problem ini. Adalah sistem Islam, sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu Ilahi, yang mengatur seluruh aspek kehidupan. 

Maraknya kasus rudapaksa merupakan tanggung jawab negara untuk segera mengatasinya. Berbeda dengan sistem sekulerisme demokrasi yang memberikan kebebasan beragama, berperilaku, berpendapat dan kepemilikan, dalam Islam semuanya diatur sesuai dengan aturan Allah. Antara aturan satu dan yang lainnya saling berkaitan. Dimulai adanya institusi negara yang menerapkan hukum-hukum Allah Swt. secara utuh, tanpa terkecuali. 

Sistem sosial masyarakat dalam Islam, mengatur bagaimana interaksi antara laki-laki dan perempuan, sehingga akan menutup celah interaksi terlarang. Sistem pendidikannya berbasis aqidah Islam sehingga menghasilkan orang-orang yang bertakwa,  terikat dengan hukum syara', menyadari bahwa segala aktivitasnya selalu diawasi dan akan dimintai pertanggungjawaban di Yaumil Akhir.

Berikutnya, yang tak kalah penting adalah ekonominya, azas-azas ekonomi Islam meliputi milkiyah (kepemilikan) meliputi milkiyah fardiyah (kepemilikan individu), milkiyah 'ammah (kepemilikan umum), dan milkiyah daulah (kepemilikan negara), At-Tasharuf Al-Milkiyah (pengelolaan kepemilikan) dan Tauzi' Ats-Tsarwah (distribusi kekayaan). Jika ketiga azas ekonomi tersebut berjalan sesuai dengan aturan yang Allah Swt. tetapkan, dipastikan negara mampu menyejahterakan rakyatnya. 

Kondisi rakyat yang sejahtera menjadikan para istri tidak perlu bekerja, mereka akan fokus di dalam rumahnya sehingga akan selalu prima melayani kebutuhan suami dan anak-anaknya. Sejahtera juga berdampak positif bagi kemampuan ekonomi kepala keluarga sehingga bisa memberikan tempat tinggal ideal,  memungkinkan untuk memisahkan tempat tidur anak.

Kemudian sistem persanksian dalam Islam yang sangat tegas berfungsi sebagai zawajir (preventif) dan jawabir (kuratif). Disebut pencegah (preventif) adalah karena dengan diterapkannya sanksi, orang lain yang akan melakukan kesalahan yang sama dapat dicegah. Hukuman tersebut akan memberikan efek jera kepada siapa pun. Di samping itu, juga bisa mencegah dijatuhkannya hukuman di akhirat. Adapun yang dimaksud pemaksa (kuratif), adalah agar orang yang bersalah dipaksa untuk menyesali perbuatannya. Dengan begitu akan terjadi penyesalan selama-lamanya atau taubatan nasuha.

Demikianlah sistem Islam mampu memberikan solusi komprehensif maraknya kasus rudapaksa, bukan hanya mampu mengatasinya tapi juga mencegahnya. Maka, hanya dengan penerapan sistem Islam lah, kondisi negeri yang mengalami krisis multi dimensional dapat diubah menjadi negeri yang penuh berkah.

Wallahu a'lam bishshowab.


Oleh : Safiatuz Zuhriyah
Editor :
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar