default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Terkait Dugaan Malapraktik "Eza" Bocah Buta, Ini Klarifikasi Direktur RSUD Kudungga Kutim

Terkait Dugaan Malapraktik "Eza" Bocah Buta, Ini Klarifikasi Direktur RSUD Kudungga Kutim
Peristiwa Daerah
Direktur RSUD Kudungga Anik Istiyandari saat diwawancara di ruang kerjanya.
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

KUTAI TIMUR-  Timbulnya berbagai opini miring publik terkait dugaan malapraktik yang dilakukan salah satu dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga pada tahun 2013  yang disiarkan langsung di salah satu stasiun TV membuat Direktur RSUD Kudungga Anik Istiyandari angkat bicara.

Ditemui langsung di ruang kerjanya di RSUD Kudungga, Anik menjelaskan, bahwa tayangan itu tidak pernah diklarifikasi sebelumnya ke pihak RS dan acara itu bukan live TV tetapi live di studio saja.

"Saya kaget tiba-tiba ditelepon tanpa konfirmasi terlebih dahulu menanyakan kasus yang sudah lama, tanpa diberi kesempatan menjelaskan tetapi diminta menyimpulkan dan memilih," jelas Anik.

Menurut Anik itu tidak adil, sebelumnya saya tidak tau apa yang sudah dikatakan oleh ibu Riyanti di acara tsb. Seakan anaknya sebelumnya bisa melihat tetapi sekarang menjadi buta karena tindakan malapraktik.

Anik menjelaskan, dari diagnosa awal diketahui bahwa M. Eza Saputra anak dari Dirman dan Riyanti menderita Katarak Congenital Totalis yaitu penyakit bawaan dari lahir yang mengakibatkan kekeruhan pada lensa mata pada bayi yang kemungkinan disebabkan oleh galaktosemia, sindroma kondrodisplasia, rubella kongenital, atau sindroma down.

"Mengakibatkan penderita hanya dapat menangkap cahaya tanpa dapat melihat, bukan sebelumnya bisa melihat seperti opini yang berkembang di tengah masyarakat yang mengira bahwa mata Eza buta karena diduga menjadi korban Malapraktik," jelas Anik, Sabtu (26/01/2019).

"Saya ingin meluruskan, sebelum operasi,  Eza ini sudah mengalami Katarak Congenital Totalis di kedua matanya, yang menyebabkan dia tidak dapat melihat, jadi dari awal Eza ini sudah tidak dapat melihat. Dokter yang menangani melakukan penanaman lensa di mata kanan dan kiri Eza itu untuk membantu eza ini bisa melihat, pemasangannya pun bertahap dengan jarak 35 hari dari operasi penanaman lensa yang pertama," terangnya.

Dirinya juga mengatakan, seusai penanaman lensa yang kedua pada mata sebelah kiri, dokter yang menangani menemukan bahwa lensa yang dipasang dimata sebelah kanan Eza miring yang kemungkinan disebabkan oleh gesekan tangan pada daerah mata.

Melihat hal tersebut, dokter yang menangani Eza ini menjadwalkan melakukan operasi perbaikan pada lensa mata kanan tersebut 5 hari kedepan, namun orang tua eza  baru membawa kembali eza ke rumah sakit 15 hari kemudian dengan keadaan yang kurang sehat sehingga tidak dapat dilaksanakan operasi perbaikan tersebut.

"Anjuran untuk sesegera mungkin membawa kembali Eza ke RSUD setelah keadaanya membaik pun mendapat respon lama dari orang tua eza. Dari riwayat pengobatan Eza diketahui dari terakhir kontrol, Eza kembali dibawa periksa ke RSUD setelah berselang 37 hari yang kemudian mendapatkan  pemeriksaan dan obat untuk 5 hari kedepan dan telah diinfokan untuk kembali kontrol setelah obat habis.

Eza kembali ke RSUD setelah 40 hari berselang dengan kondisi mata sebelah kanan Eza telah membesar, sehingga dokter yang menangani memutuskan untuk merujuk Eza ke rumah sakit lain yang peralatannya lebih lengkap.

"Terakhir dibawa ke RSUD kondisi mata kanan Eza sudah membesar, ini bukan kesalahan operasi ataupun malapraktik seperti yang tersiar di sosial media, karena sudah diputuskan di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) maupun penyidikan di Polres Kutai Timur yang menyatakan bukan malapraktik, karena sebelumnya kedua matanya sudah tidak bisa melihat, jadi tidak benar akibat operasi tersebut mata Eza jadi buta, itu semua persepsi yang salah," tegasnya. (EQ)


Kontributor : Kutai Timur
Editor : Chandra Kirana
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar