default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Gaming Disorder Melanda Generasi, Umat Butuh Solusi

Gaming Disorder Melanda Generasi, Umat Butuh Solusi
Suara Pembaca
Luthfina Muzayyanah. (Penulis buku, Pemerhati Sosial dan Remaja)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh : Luthfina Muzayyanah. (Penulis buku, Pemerhati Sosial dan Remaja)

Generasi milenial dan gadget memang sangat terikat kuat. Kabarnya, sebagian besar kehidupan generasi milenial ini sangat bergantung dengan gadget. Mulai dari belajar online, belanja,traveling, bahkan untuk menghilangkan strees dengan cara bermain game di smartphone.

Beberapa orang memilih tidur siang, membaca buku, atau menonton film komedi untuk mengisi waktu luang sekaligus mengusir stres. Segelintir lainnya lebih memilih untuk main game — entah game konsol, game komputer, ataupun game online di handphone. 
Main game memang tidak seburuk yang selama ini dianggap banyak orang.

Namun hati-hati apabila sudah terlanjur jadi kecanduan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) kini menggolongkan kecanduan main game sebagai gangguan mental. Waduh!. Badan Kesehatan Dunia (WHO) berencana menerbitkan buku panduan International Classification of Diseases (ICD-11) pada tahun 2018 ini dengan memasukkan kecanduan main game sebagai salah satu kategori gangguan jiwa baru, disebut sebagai gaming disorder (GD).

Banyak sekali fakta terkait pengaruh buruk dari gaming disorder,salah satunya adalah berita tentang  lima anak di Jember, Jawa Timur jalani perawatan kejiwaan karena mengalami kecanduan game online.

Perubahan perilaku kelima anak tersebut membuat mereka hingga tidak mau belajar. Kelima pasien tersebut berusia 10 hingga 14 tahun.

 Selain itu, berita mengabarkan seorang murid di gresik berani melawan dan menganiaya gurunya. Ini tidak pertama kali terjadi karena sebelumnya pada tahun 2018, seorang siswa membunuh gurunya.

Ada juga siswa SMK beramai-ramai membuli gurinya sendiri dikelas. Dan kabar terakhir, cleaning service dianiaya oleh siswa. Bukankan seretentan kejadian ini bisa menjadi bukti dampak dari game online pada pembentukan perilaku generasi yang buruk. Game online menciptakan Generasi moderen yang tidak bermoral.Sangat Disayangkan.

Generasi millenial memang sangat akrab dengan gadjet dan paling suka dan jago main game. Bertarung dengan lawan di dunia maya yang bisa jadi lebih tua atau bahkan seorang presiden yang perlu dihormati.

Dalam dunia game online tidak ada tata krama atau adab dalam berinteraksi karena semua dianggap sama musuh yang harus dikalahkan. Berani dan semangat melawan yang lain inilah yang mereka dapatkan dengan generasi game.

Disaat mereka keluar dari dunia maya masuk ke dunia nyata, kebiasaan menyerang dan melawan terbawa ke dunia nyata. Siapapun tidak perduli dia lebih tua, orang tua atau guru disekolah, akan dilawan jika tidak sesuai dengan keinginannya. Mereka tidak menyadari bahwa dalam dunia nyata, ada tata krama dan adab yang harus dipatuhi agar menjadi remaja yang baik.

Pakar kesehatan di seluruh dunia menyetujui bahwa kecanduan main game dapat memiliki dampak yang menyerupai kecanduan alkohol atau obat-obatan terlarang. Usulan ini dibuat karena melihat adanya bukti peningkatan pesat dalam kasus kecanduan game dari berbagai belahan dunia, yang juga disertai dengan permintaan rujukan terapi pengobatan di dokter.

Sangat disayangkan jika pemerintah malah mengadakan event e-sport hanya karena ingin menarik simpati dari generasi millenial. Bahkan seorang presiden bermain game online bersama emak-emak. Tidakkah rezime menyadari dampak dari game terhadap pembentukan perilaku buruk pada generasi millenial.

Apakah hanya karena menaikkan elektabilitas harus mengorbankan mereka, generasi calon pemimpin masa depan. Belum lagi, generasi millenial cenderung tidak suka belajar. Mereka malas membaca karena terbiasa dengan gambar bergerak yang mereka mainkan dalam game.

Ini meyebabkan mereka malas melihat bacaan yang isinya tulisan hitam putih yang tidak bergerak. Tulisan bukan suatu yang menarik untuk dilihat apalagi untuk dibaca. Padahal kebiasaan membaca adalah penting agar mereka menjadi generasi hebat.

Game online telah melenakan generasi untuk bangkit di dunia nyata untuk meraih cita -cita. Generasi yang harusnya mempersiapkan diri untuk berprestasi, menenggelamkan diri pada dunia game.

Banyak orang tua yang prihatin dan mengeluh dengan anak-anak mereka karena mereka suka malawan dan bersikap kasar. Mereka  lebih tidak perduli dan sulit diatur. Emosinya lebih sulit dikendalikan seperti halnya saat mereka bermain game. Yang ada dalam dirinya hanya mengalahkan siapa saja yang dianggap musuhnya.  

Diakui bahwa generasi game susah diatur. Mereka suka meledak-ledak saat diarahkan tidak sesuai dengan keinginannya. Terbukti di Gresik siswa SMP berani melawan gurunya dan bahkan menganiayanya. Sangat disayangkan. Generasi yang diharapkan dapat memimion negri dengan baik justru dilenakan dengan game online yang tidak bermanfaat. 

Generasi butuh Solusi. 
    
Ini adalah masalah serius, game merusak generasi millenial. Namun, rezime tidak perduli bahkan memberi fasilitas dan membuat event e-sport  yang dilakukan oleh seorang presiden dan para masyarakat.

Mereka yang harusnya peduli dengan generasi moderen ini yang telah dirusak oleh game, malah mendorong mereka untuk lebih tenggelam dalam dunia game. Hanya untuk menarik simpati dari generasi millenial dan menaikkan elektabilitasnya dilpress 2019, segala cara dilakukan meskipun harus merusak generasi. 

Fakta generasi yang kecanduan game online dari waktu ke waktu semakin bertambah. Sistem Sekular - Kapitalis membuat manusia rentan rusak dan sakit. Mudahnya generasi terkena kecanduan game online disebabkan karena lemahnya keimanan generasi, kurangnya peran keluarga dalam mencetak generasi sholih, sistem pendidikan yang sekular, dan negara abai terhadap kerusakan generasi.

Ada 4 solusi agar kecanduan game online bisa terselesaikan, yaitu:

Pertama, menguatkan keimanan generasi. 

Kedua, kembali kepada sistem pendidikan Islam, yang bertujuan mewujudkan generasi bertaqwa.

Ketiga, mengembalikan peran keluarga sebagai sumber kasih sayang, mendidik anak yang sholih dan perlindungan keluarga dari berbagai ancaman kerusakan di dunia luar.

Keempat, mengembalikan negara berfungsi sebagai penanggung jawab rakyatnya, dengan menutup situs game online atau mengatur, agar tidak menambah jumlah pencandu game online.

Allahu 'alam bish showab


Kontributor :
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar