default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Politik Uang Vs Politik Takwa

Politik Uang Vs Politik Takwa
Suara Pembaca
Sania Nabila Afifah
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh: Sania Nabila Afifah

Komunitas Muslimah Rindu Jannah


Pesta demokrasi selalu identik dengan yang namanya money politik. Ajang pemilihan presiden dan calon legislatif saat ini berlangsung dengan banyak kejadian yang janggal. Persaingan antara para calon pasti terjadi. Maka sangat memungkinkan adanya serangan fajar atau money politik. Disebabkan mahalnya mahar yang harus mereka bayar. Hingga segala cara dilakukan untuk mendapatkan suara terbanyak dengan satu jalan yaitu money politik.


Dilansir dari suaraindonesia-news.com – Lumajang Persoalan penemuan money politic di Kecamatan Pronojiwo oleh Satgas Keamanan Desa (SKD) disinyalir selesai dan tidak berlanjut.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Lumajang, H Amin Sobari SH

“Bagaimana bisa dilanjutkan kalau saksi dipanggil tidak pernah hadir, dan mengatakan kalau mereka tidak mengetahui jelas kejadian tersebut,” katanya.

Padahal seperti dikutip dari media online momontum.com, upaya money politic yang diduga dilakukan oleh calon legislatif (caleg) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dapil 3 Lumajang, masih menjadi sorotan publik, yang terjadi di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, jelang Pileg dan Pilpres, Rabu (17/4) lalu.

Praktik pemberian amplop yang berisi uang dibagikan kepada masyarakat dan terkangkap oleh Satgas Keamanan Desa Pronojiwo, diketahui bernama Gimbang dan Deni.

Mereka anggota Satgaskam Desa Pronojiwo menemukan money politic tersebut saat melaksanakan patroli dan bertemu Latif warga Dusun Ranu yang terindikasi membagikan uang (dalam amplop) dari salah satu caleg PKB Dapil 3 atas nama Sugianto, pada Minggu (14/4) malam lalu.

Tertangkapnya pelaku oleh anggota Satgas Keamanan Desa setempat saat itu, hingga didudukan di meja Panwascam hingga sampai ke tingkat Bawaslu Kabupaten Lumajang.
2019.

Sistem demokrasi meniscayakan permainan politik uang atau upaya lain untuk meraih kekuasaan dan jabatan. Disebabkan mahalnya mahar untuk menjadi calon penguasa maupun pejabat. Berbagai cara digunakan untuk meraih suara terbanyak saling sikut dan tuduh sudah menjadi hal yang biasa. Sekularisme telah menjadikan umat memisahkan aktivitasnya dengan nilai-nilai takwa. Agama tak lagi dipersoalkan demi kekuasaan dan jabatan. Halal haram tak lagi menjadi standar dalam menentukan perbuatan. Walaupun kebanyakan dari mereka adalah Muslim.


Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan politik dalam Islam. Politik Islam dibangun berdasarkan kepada sikap takwa. Kekuasaan dan jabatan fungsinya digunakan untuk mengayomi, mengurusi urusan umat berdasarkan syariah Islam.


Dalam Islam politik bukanlah sesuatu yang kotor politik Islam tidak identik dengan rebutan kekuasaan dan kedudukan. Dalam bahasa arab, politik berpadanan dengan kata sasa-yasusu-siyasatan; artinya mengurusi, memelihara.


Samih ‘Athif dalam bukunya, As-siyasah wa as-siyasah ad-Dauliyyah (1987:31), menulis bahwa politik (siyasah) merupakan pengurusan urusan umat, perbaikan, pelurusan, menunjuki pada kebenaran dan membimbing menuju jalan kebaikan. Karena itu dalam Islam, politik amatlah mulia sehingga Islam dan politik tak bisa dipisahkan.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya, al-Iqtishad fi al-I’tiqad, menyatakan, “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar...Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah”.


Hakikat politik Islam adalah politik takwa jabatan dan kekuasaan adalah amanah dari Allah, harus diatur berdasarkan hukum Allah yang pada akhirnya harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah.


“Imam (khalifah) adalah pengurus; ia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya. (HR Muslim)


Dan setiap diri kita juga adalah pemimpin yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin.

Berbeda dengan filosofi demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.  Yang sejatinya itu hanyalah slogan untuk membius kaum Muslim. Pada kenyataannya slogan tersebut tak berfungsi sebagaimana mestinya. Rakyat hanya menjadi alat untuk meraih kekuasaan saja. Setelah itu rakyat akan diabaikan. 


Politik bukanlah hal yang kotor, tetapi sistem yang diemban saat inilah yang membuat umat menjadi politikus kotor. Maka kembalikanlah makna politik sesuai kepada fitrahnya. 


Wallahu a’lam bi ash-shawab


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Nanang Habibi
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar