Legendaris Pecel Pincuk Garahan, Punya Seribu Cerita

Legendaris Pecel Pincuk Garahan, Punya Seribu Cerita
Ekonomi
Nampak penjual Nasi Pincuk Garahan sedang sibuk melayani pembeli dari luar kereta ( Foto : Bima Copyright)

JEMBER - Bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum lengkap rasanya jika tidak mencoba mencicipi kuliner legendaris khas kota pandhalungan ini.

Pecel Pincuk Garahan namanya. Disebut pincuk, karena tempat penyajian masakannya terbuat dari daun pisang yang dibentuk menyerupai limas mengerucut.

Berpusat di Desa Garahan, Kecamatan Silo, daerah paling ujung timur jalan nasional arah Kabupaten Banyuangi membuat pengunung dengan mudah mengaksesnya.

Ditambah lagi, daerah tersebut merupakah pegunungan alami yang dikelilingi kebun kopi dan hutan pinus, membuat penikmatnya sempurna memanjakan lidah. 

Dulu, bagi masyarakat yang biasa menggunakan jasa transportasi Kereta Api pada tahun sebelum tahun 80-an makanan ini sudah ada dan sudah sangat dikenal.

Ketika Kereta Api terminal di Stasiun Garahan, bisa dipastikan kaum ibu datang di pinggir jendela kereta, untuk menawarkan Pecel Pincuk yang dipanggul mengunakan tempeh (tempat yang terbuat dari anyaman bambu).

Harganyapun tidak teelampau mahal, pada tahun 1990 an cukup Rp 1.500 per pincuk anda sudah dijamin kenyang. Ditambah teh hangat yang dibungkus plastik Rp 500 saja .

Serunya lagi, pembeli dalam kereta harus segera merapat ke jendela dan buru-buru membeli. Jika tidak, kereta akan segera berangkat dan dijamin pembeli tidak akan kebagian.

Bahkan, si penjualnya kadang harus berlari mengejar dan memberikan lewat bilik jendela kereta. Kadang, ada nasi sudah diterima membayarnya terlambat dan sebaliknya.

Sambil memandangi pepohonan Hutan Gumitir yang menghijau, serta melewati trowongan gelap yang jaraknya hampir 2 kilometer, sensasi rasanya sungguh mengesankan.  

Tentu, bagi yang nutut pada masa itu, akan terbayang keseruannya. Seakan menguak memory yang seakan lama hilang.

Penamaan Pecel Pincuk itu sendiri, tidak bisa lepas dari cerita sejarahnya.

Menurut cerita tokoh adat sekitar, makanan ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Dijual oleh warga Garahan.

Mereka menggunakan bahan yang berasal dari alam, dengan tujuan dijual kepada nonik-nonik (istri) belanda.

Seperti pecel pada umumnya, mereka menggunakan kacang dan buah karet untuk bumbunya. Kebetulan, daerah tersebut kawasan perkebunan dan hutan.

"Gik Jemanah blendeh kule pon ajuel pecel cong. Jemanah nonik-nonik (Masih jaman belanda saya sudah menjual pecel. Jaman istri-istri belanda) ," terang Mad, sesepuh adat sekitar, beberapa tahun lalu.

Seperti yang dijual pada umumnya, nasi pecel ada sayur yang ditaburi bumbu kacang ditambah kerupuk warna merah. 

Yang membuat beda, Pecel Pincuk Garahan menggunakan daun pisang dilengkapi lamtoro mentah. 

"Yang membuat saya ketagihan, sayurnya dari tumbuhan liar dan lamtoro mentah, membuat saya ngiler ingin beli lagi,” jelas Mahfud (56) salah seorang guru Pegawai Negeri Sipil Jember.

Bagi Mahfud, Stasiun Garahan punya seribu cerita saat dirinya masih anak-anak dan remaja bersama keluarga.

"Ya ALLAH, saya masih ingat saat itu saya masih kecil dan remaja. Bisa dipastikan, Stasiun Garahan yang paling ditungu-tunggu saat naik kereta, ya Pecel Pincuk," papar Mahfud.

Seiring perkembangan zaman, banyak kereta tidak terminal di Stasiun Garahan. Akhirnya, kepala desa setempat mengusulkan untuk penjualnya pindah membuat stand di pinggir jalan raya.

"Alahamdulillah puluhan stand berdiri dan ramai juga pengunjung. Apalagi ini jalan penghubung antar kabupaten," terang Bu.Roni penjual pecel yang cukup terkenal itu.

Bagi masyarakat sekitar, berjualan kuliner ini sangat membantu roda perekonomian dan mampu memberi warna tersendiri bagi pengunjung yang melintas. 

Bahkan, Bu Roni mengakui perhari bisa menghasilkan omset Rp 250.000 sampai Rp 500.000.

‘Pembelinya pengendara yang lewat menuju Banyuwangi dan yang ke arah Jember. Lumayan lah, bisa menghidupi keluarga,” tuturnya.

‘Pencel Pincuk Garahan’ adalah satu masakan khas asli Jember yang saat ini masih ada dan itu bukan hanya sebuah cerita. 

Anda penasaran, mari datang dan manjakan selera makan, juga sesekali mengingat kenangan masa kecil dan remaja anda.

Simak video berikut:


Kontributor : Imam Khairon
Editor : Nanang Habibi
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar