default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Sejarah Penamaan dan Tradisi Sedekah Jenang Suro

Sejarah Penamaan dan Tradisi Sedekah Jenang Suro
Suara Pembaca
Jenang Suro
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh : Asep Kalisat

JEMBER - Bubur berasal dari kata 'gugur' dan suro yang berasal dari kata 'Asyuro'. Keduanya, jika digabung berarti gugur di hari Asyuro. 

Konon, hal itu dipercaya sebagai simbol untuk mengenang cucu Kanjeng Nabi SAW. Bubur Suro sangat dikenal di kalangan masyarakat muslim di Jawa. 

Cerita mengenai bubur suro ini, terkait dengan syahidnya Husain di padang Karbala. Keluarga ahlulbait Nabi dibantai oleh keluarga Khalifah Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan, atas perintah Yazid bin Muawiyah. 

Untuk mengenang kesyahidan itu, maka dibuatlah sedekah dalam bentuk bubur merah dan putih sebagai simbol keberanian Husain membela kebenaran. 

Karena merah itu adalah darah dan putih adalah sebagai simbol menegakkan nilai-nilai suci,melestarikan tradisi sedekah bubur syura dilakukan untuk memperingati kesyahidnya Al-Husein di Karbala. 

Ritual di Bulan Syuro, bagi masyarakat Jawa terbilang cukup padat. Dari malam pertama bulan Syuro hingga hari ke sepuluh termasuk setelahnya, merupakan hari-hari yang memiliki nilai kesakralan. 

Dari keseluruhan peribadatan pada bulan Muharram, yang paling populer adalah ritual pada hari Asyuro, atau hari kesepuluh bulan Muharram.

Manaqib atau kisah perjalanan cucu Nabi dilakukan untuk memperingati kesyahidnya Al-Husein di Karbala. Sebagai tanda kehormatan dan pemuliaan terhadap cucu Nabi Muhammad SAW, putra Ali bin Abi Tholib dan Fatimah. 

Maka, dibuatlah sedekah dalam bentuk bubur merah dan putih sebagai simbol keberanian Husain membela kebenaran. Kita melihat sekarang itu orang sudah menganggap Asyura tidak menjadi suatu nilai yang sakral dan tidak memiliki makna.

Padahal orang orang tua kita dulu, mengingatkan kita dengan adanya tradisi sedekah bubur merah dan bubur putih itu, Kita hidupkan kembali budaya yang sudah sekian lama dibangun dan kemudian hampir punah ini. 

Bubur merah dan putih, sebagai simbol perjuangan Al-Husein. Supaya orang mengingat kembali sesuatu yang menimpa keluarga Nabi dan Al-Husein pada 10 Muharam tersebut. 

Harus diingat, bahwa bubur suro bukanlah sesajen yang bersifat animistik. Bubur suro syarat dengan lambang, dan karenanya harus dibaca, dilihat, dan ditafsirkan secara mendalam.


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Imam Hairon
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar