default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

ICMI Diskusi Publik, Mengusung Tema Menjaga Tradisi Demi Kutuhan NKRI

ICMI Diskusi Publik, Mengusung Tema Menjaga Tradisi Demi Kutuhan NKRI
Peristiwa Nasional
Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Jayapura menyelenggarakan diskusi publik.(Foto: Istimewa)
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

JAYAPURA- Menyikapi gonjang-ganjing yang terjadi di Papua beberapa minggu kemarin, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Jayapura menyelenggarakan diskusi publik dengan tema Menjaga Tradisi Demi Kutuhan NKRI, Minggu (21/09/2019).

Acara yang diselenggrakan di Caffe dan Resto Rainbow, Jayapura, dihadiri puluhan Pemida, Mahasiswa, Aktivis, Masyarakat, dan Awak Media di Papua.

Hadir menjadi narasumber dalam acara tersebut Khar Yelipele Tokoh Masyarakat Papua Jayapura, Dr. Arianto Kadir Ketua ICMI Jayapura, dan Ahmad Muhazir Ketua GP Ansor Jayapura

Ahmad Muhazir mengatakan, aspirasi sudah dilakukan oleh masyarakat Papua, tentang bagaimana hari ini pemerintah merangkul agar terwujudnya rekonsiliasi dengan baik sebagai bentuk jawaban, bahwa pemerintah sudah tepat caranya untuk menjaga kestabilan khusunya di Papua.

"Hal itu terlihat dari upaya-upaya yang dilakukan secara keseriuasan pemerintah pusat yang dipinmpin oleh presiden melelui pihak keamanan dan menggunakan pendekatan kebudayaan, agama maupun politik," ungkapnya.

Menurutnya, Pemerintah pusat sudah tepat menggunakan pendekatan kebudayaan, agama maupun politik dalam menjaga kestabilan di Papua.

Katanya, langkah yang ditempuh pemerintah dengan mengundang tokoh Papua untuk silaturahim ke Istana adalah langkah positif yang dilakukan oleh Pemerintah. Dalam hal ini Pemerintah Daerah juga mempunyai cara baik untuk menyelesaikan persolan terkait Papua. Tapi memang persolan ini tidak bisa diselasaikan dengan cepet, pemerintah harus mengkaji betul-betul persoalan tersebut dengan cermat dan teliti.

“Saya sadar betul persolan ini tidak bisa diselasaikan dengan cepet, pemerintah harus mengkaji betul-betul persoalan tersebut dengan cermat dan teliti”, imbuh Muhazir.

Dia juga menilai bahwa konfik ini bermula dari anak muda/ mahasiswa Papua yang berada di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya dan Malang.

Dia menceritakan, konflik ini bermula dari penggrebekan Mahasiswa Papua yang berada di Surabaya dan Malang sehingga kejadian tersebut langsung direspon oleh banyak kelompok. Saat itu ada respon positif dan ada pula kelompok yang merespon negatif yang memang menginginkan perpecahan di antara persaudaraan sebangsa dan setanah air.

masih tetao dia, respon-respon ini begitu cepat tersebar di medsos, sehingga informasi yang didapaat oleh masyarakat tumpang tindih dan sangat sulit disaring. masyarakat harus cerdas dalam menerima informasi atau berita agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu kebenarannya.

"Belajar dari persoalan ini, kita harus mengkedepankan 3 aspek agar kita tetap bersatu," katanya.

Dia memaparkan, aspek yang pertama adalah merawat kebangsaan, merawat sejaraah asal muasal suku bangsa, dan merawat nilai-nilai etika (sopan santun, serta adat istiadat setia suku). jika hal tersebut mampu kita jaga, hal itu akan menjadikan sebuah identitas bangsa yang harus kita syukuri karena itu semua merupakan karunia Tuhan.

Khar Yelipele, juga mengingatkan lagi tentang soal persatuan dan kesatuan, menurutnya Papua sejak awal sudah bersatu dengan NKRI. hal tersebut terlihat dari tokoh-tokoh agama dan masyarakat asli Papua.

“Sejak awal sudah bersatu dengan NKRI, mari kita jaga persatuan dan kesatuan”, ujar Yelipele.

Menurut dia, ada oknum atau kelompok yang sengaja merusak persaudaraan ini yang kadang-kadang membuat kita sebagai masyarakat Papua menjadi tidak pecaya diri dan merasa termarjinalkan, padahal sebenarnya kita ini sama dengan mereka, hanya saja kita dibedakan oleh adat istiadat kita.

“Ada oknum atau kelompok yang sengaja merusak persaudaraan ini yang kadang-kadang membuat kita sebagai masyarakat Papua menjadi tidak pecaya diri dan merasa termarjinalkan”, tegas Yelipelle.

Lewat forum diskusi publik ini saya menghimbau kepada masyarakat, terkusus teman-teman yg ada disini bahwa, ayo bersama-sama menjaga tanah Papua ini dengan tidak merusak kepercayaan kita terhadap Negara Republik Indonesia ini.

“Ayo bersama-sama menjaga tanah Papua ini dengan tidak merusak kepercayaan kita terhadap Negara Republik Indonesia ini”, imbuh Yelipelle.

Sedangkan Dr. Arianto Kadir menilai yang terjadi di beberapa waktu lalu tidak terlepas dari tunggangan oknum-oknum yang sengaja ingin merusak negara kita dan merusak persaudaraan kita.

Dia menilai kasus kemarin ada oknum yang sengaja ingin merusak Negara kita dan merusak persaudaraan kita.

" Mungkin bentuk tawaran solusi untuk kita lakukan dan renungkan bersama-sama bahwa persoalan ini mengajak kita untuk saling menjaga nilai-nilai toleransi yang salah satunya dapat dilakukan dengan cara bersilaturahim, dan saling menghargai antar masyarakat khusunya masyarakat yang ada di papua," ujarnya.

Dia mencontohkan, misalnya silaturahim organisasi NU dan Muhamadiyah, antar agama dan adat istiadat.

Masih katanya, ketika ini dilakukan maka tidak akan terjadi perselisihan.

"kita jangan terlalu lama berlarut-larut dalam menanggapi konflik ini yang ada. kita malah pusing sendiri, kita harus segera bangkit, pekerjaan rumah kita masih banyak misalnya kita harus membangun SDM yang unggul, mampu mengolah SDA. jangan sampai SDA yang ada di Papua ini dikelola oleh kelompok-kelompok yang tidak pro NKRI," pungkasnya.


Kontributor : Bahrullah
Editor :
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar